<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ade Alam</title>
	<atom:link href="http://adealam.890m.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adealam.890m.com</link>
	<description>Cita-cita seorang penuntut ilmu</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 Dec 2009 14:07:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hukum “Oral Sex”</title>
		<link>http://adealam.890m.com/2009/12/04/hukum-%e2%80%9coral-sex%e2%80%9d.html</link>
		<comments>http://adealam.890m.com/2009/12/04/hukum-%e2%80%9coral-sex%e2%80%9d.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 14:06:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.890m.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullah
Apa hukum oral seks?

Jawab:
Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullah menjawab sebagai berikut,
&#8220;Adapun isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral sex), maka ini adalah haram, tidak dibolehkan. Karena ia (kemaluan suami) dapat memencar. Kalau memencar maka akan keluar darinya air madzy yang dia najis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullah</p>
<p><strong>Apa hukum oral seks?</strong><br />
<span id="more-170"></span><br />
Jawab:<br />
Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullah menjawab sebagai berikut,</p>
<p>&#8220;Adapun isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral sex), maka ini adalah haram, tidak dibolehkan. Karena ia (kemaluan suami) dapat memencar. Kalau memencar maka akan keluar darinya air madzy yang dia najis menurut kesepakatan (ulama&#8217;). Apabila (air madzy itu) masuk ke dalam mulutnya lalu ke perutnya maka boleh jadi akan menyebabkan penyakit baginya.<br />
Dan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah telah berfatwa tentang haramnya hal tersebut &#8211;sebagaimana yang saya dengarkan langsung dari beliau-.&#8221;</p>
<p>Dan dalam kitab Masa`il Nisa&#8217;iyyah Mukhtarah Min Al-`Allamah Al-Albany karya Ummu Ayyub Nurah bintu Hasan Ghawi hal. 197 (cet. Majalisul Huda AI¬Jaza&#8217;ir), Muhadits dan Mujaddid zaman ini, Asy-Syaikh AI-`Allamah Muhammad Nashiruddin AI-Albany rahimahullah ditanya sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Apakah boleh seorang perempuan mencumbu batang kemaluan (penis) suaminya dengan mulutnya, dan seorang lelaki sebaliknya?&#8221;<br />
Beliau menjawab:</p>
<p>&#8220;Ini adalah perbuatan sebagian binatang, seperti anjing. Dan kita punya dasar umum bahwa dalam banyak hadits, Ar-Rasul melarang untuk tasyabbuh (menyerupai) hewan-hewan, seperti larangan beliau turun (sujud) seperti turunnya onta, dan menoleh seperti<br />
tolehan srigala dan mematuk seperti patukan burung gagak. Dan telah dimaklumi pula bahwa nabi Shallallahu `alahi wa sallam telah melarang untuk tasyabbuh dengan orang kafir, maka diambil juga dari makna larangan tersebut pelarangan tasyabbuh dengan hewan-hewan -sebagai penguat yang telah lalu-, apalagi hewan yang telah dlketahui kejelekan tabiatnya. Maka seharusnya seorang muslim &#8211;dan keadaannya seperti ini- merasa tinggi untuk menyerupai hewan-hewan.&#8221;</p>
<p>Dan salah seorang ulama besar kota Madinah, Asy-Syaikh AI-`Allamah `Ubaid bin &#8216;Abdillah bin Sulaiman AI-Jabiry hafizhahullah dalam sebuah rekaman, beliau ditanya sebagai berikut,</p>
<p>&#8220;Apa hukum oral seks&#8217;?&#8221; Beliau menjawab:</p>
<p>&#8220;Ini adalah haram, karena is termasuk tasyabbuh dengan hewan-hewan. Namun banyak di kalangan kaum muslimin yang tertimpa oleh perkara-perkara yang rendah lagi ganjil menurut syari&#8217;at, akal dan fitrah seperti ini. Hal tersebut karena ia menghabiskan waktunya untuk mengikuti rangkaian film-film porno melalui video atau televisi yang rusak. Seorang lelaki muslim berkewajiban untuk menghormati istrinya dan jangan ia berhubungan dengannya kecuali sesuai dengan perintah Allah. Kalau ia berhubungan dengannya selain dari tempat yang Allah halalkan baginya maka tergolong melampaui batas dan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu &#8216;alahi wa sallam.&#8221;</p>
<p>Dikutip dari majalah An-Nashihah Volume 10 1427H/2006M</p>
<p>Sumber: <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;70d5258bab0b84bb8eaf415309711ada&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.darussalaf.org/myprint.php?sid=276" target="_blank"><span>http://www.darussalaf.org/</span>myprint.php?sid=276</a></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fadealam.890m.com%2F2009%2F12%2F04%2Fhukum-%25e2%2580%259coral-sex%25e2%2580%259d.html&amp;linkname=Hukum%20%E2%80%9COral%20Sex%E2%80%9D"><img src="http://adealam.890m.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.890m.com/2009/12/04/hukum-%e2%80%9coral-sex%e2%80%9d.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERKATAAN EMPAT IMAM MADZHAB DALAM MENGIKUTI SUNNAH</title>
		<link>http://adealam.890m.com/2009/12/04/perkataan-empat-imam-madzhab-dalam-mengikuti-sunnah.html</link>
		<comments>http://adealam.890m.com/2009/12/04/perkataan-empat-imam-madzhab-dalam-mengikuti-sunnah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 13:31:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.890m.com/2009/12/04/perkataan-empat-imam-madzhab-dalam-mengikuti-sunnah.html</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullah-
Kiranya sangat bermanfaat untuk disajikan di sini sedikit atau sebagian perkataan mereka, dengan harapan, semoga di dalamnya terdapat pelajaran dan peringatan bagi orang yang mengikuti mereka, bahkan bagi orang yang mengikuti selain mereka yang lebih rendah derajatnya dari taqlid buta, dan bagi orang yang berpegang teguh kepada madzab-madzab dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullah-</p>
<p>Kiranya sangat bermanfaat untuk disajikan di sini sedikit atau sebagian perkataan mereka, dengan harapan, semoga di dalamnya terdapat pelajaran dan peringatan bagi orang yang mengikuti mereka, bahkan bagi orang yang mengikuti selain mereka yang lebih rendah derajatnya dari taqlid buta, dan bagi orang yang berpegang teguh kepada madzab-madzab dan perkataan-perkataan mereka, sebagaimana kalau madzab-madzab dan perkataan-perkataan itu turun dari langit.</p>
<p>Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala, berfirman: &#8220;Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)&#8221;. <strong>(QS. Al-Araf :3)</strong></p>
<p><span id="more-169"></span></p>
<p><strong>I. ABU HANIFAH</strong></p>
<p>Yang pertama-tama diantara mereka adalah Imam Abu Hanifah An-Numan bin Tsabit. Para sahabatnya telah meriwayatkan banyak perkataan dan ungkapan darinya, yang semuanya melahirkan satu kesimpulan, yaitu kewajiban untuk berpegang teguh kepada hadits dan meninggalkan pendapat para imam yang bertentangan dengannya.</p>
<p>1. &#8220;Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku.&#8221; (Ibnu Abidin di dalam Al-Hasyiyah 1/63)</p>
<p>2. &#8220;Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya&#8221;. (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Intiqau fi Fadha ilits Tsalatsatil Aimmatil FuqahaI, hal. 145)</p>
<p>3. Dalam sebuah riwayat dikatakan: &#8220;Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku&#8221;.</p>
<p>4. Di dalam sebuah riwayat ditambahkan: &#8220;Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari&#8221;.</p>
<p>5. &#8220;Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah dan kabar Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi Was Sallam, maka tinggalkanlah perkataanku&#8221;. (Al-Fulani di dalam Al-Iqazh, hal. 50)</p>
<p><strong>II. MALIK BIN ANAS</strong></p>
<p>Imam Malik berkata:<br />
1. &#8220;Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan kitab dan sunnah, ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan sunnah, tinggalkanlah&#8221;. (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami, 2/32)</p>
<p>2. &#8220;Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam&#8221;. (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)</p>
<p>3. Ibnu Wahab berkata, &#8220;Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang menyelang-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, &#8216;tidak ada hal itu pada manusia&#8217;. Dia berkata. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu, maka dia berkata: Apakah itu? Aku berkata: Al-Laits bin Saad dan Ibnu Lahiah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al-Maafiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadits kepada kami, ia berkata, &#8216;Aku melihat Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam menunjukkan kepadaku dengan kelingkingnya apa yang ada diantara jari-jari kedua kakinya&#8217;. Maka dia berkata, &#8217;sesungguhnya hadits ini adalah Hasan&#8217;, Aku mendengarnya hanya satu jam. Kemudian aku mendengarnya, setelah itu ditanya, lalu ia memerintahkan untuk menyelang-nyelangi jari-jari. (Mukaddimah Al-Jarhu wat Tadil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)</p>
<p><strong>III. ASY-SYAFI&#8217;I</strong></p>
<p>Adapun perkataan-perkataan yang diambil dari Imam Syafii di dalam hal ini lebih banyak dan lebih baik, dan para pengikutnya pun lebih banyak mengamalkannya. Di antaranya:</p>
<p>1. &#8220;Tidak ada seorangpun, kecuali dia harus bermadzab dengan Sunnah Rasulullah dan menyendiri dengannya. Walaupun aku mengucapkan satu ucapan dan mengasalkan kepada suatu asal di dalamnya dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang bertentangan dengan ucapanku. Maka peganglah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Inilah ucapanku.&#8221; (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir, 15/1/3)</p>
<p>2. &#8220;Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena untuk mengikuti perkataan seseorang.&#8221; (Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal. 68)</p>
<p>3. &#8220;Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka berkatalah dengan sunnah rasulullah Shalallahu alaihi Wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.&#8221; Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam, 3/47/1)</p>
<p>4. &#8220;Apabila Hadist itu Shahih, maka dia adalah madzhabku.&#8221; (An-Nawawi di dalam Al-Majmu, Asy-Syarani, 10/57)</p>
<p>5. &#8220;kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari padaku tentang hadist dan orang-orangnya (Rijalu l-Hadits). Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, akan bermadzhab dengannya.&#8221; ( Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-SyafiI, 8/1)</p>
<p>6. &#8220;Setiap masalah yang didalamnya kabar dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah shahih bagi ahli naqli dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati.&#8221; (Al-Harawi, 47/1)</p>
<p>7. &#8220;Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi yang bertentangan dengannya shahih, maka ketahuilah, sesungguhnya akalku telah bermadzhab dengannya.&#8221; (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Muaddab)</p>
<p>8. Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari nabi shalallahu alaihi wa sallam terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu mengikutiku.&#8221; (Aibnu Asakir, 15/9/2)</p>
<p><strong>IV. AHMAD BIN HAMBAL</strong></p>
<p>Imam Ahmad adalah salah seorang imam yang paling banyak mengumpulkan sunnah dan paling berpegang teguh kepadanya. Sehingga ia membenci penulisan buku-buku yang memuat cabang-cabang (furu) dan pendapat, Oleh karena itu ia berkata:</p>
<p>1. &#8220;Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafii, Auzai dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil.&#8221; (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-Ilam, 2/302)</p>
<p>2. &#8220;Pendapat AuzaI, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan alasan hanyalah terdapat di dalam Atsar-Atsar.&#8221; (Ibnul Abdl Barr di dalam Al-Jami, 2/149)</p>
<p>3. &#8220;Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran.&#8221; (Ibnul Jauzi, 182).</p>
<p>Allah berfirman: &#8220;Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya&#8221; (An-Nisa:65),</p>
<p>dan firman-Nya: &#8220;Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.&#8221; (An-Nur:63).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: &#8220;Adalah menjadi kewajiban bagi setiap orang yang telah sampai kepadanya perintah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam dan mengetahuinya untuk menerangkannya kepada umat, menasehati mereka dan memerintahkan kepada mereka untuk mengikuti perintahnya. Dan apabila hal itu bertentangan dengan pendapat orang besar diantara umat, maka sesungguhnya perintah Rasulullah shalallahu alaihi wa Sallam itu lebih berhak untuk disebarkan dan diikuti dibanding pendapat orang besar manapun yang telah bertentangan dengan perintahnya di dalam sebagian perkara secara salah.</p>
<p>Dan dari sini, para sahabat dan orang-orang setelah mereka telah menolak setiap orang yang menentang sunnah yang shahih, dan barangkali mereka telah berlaku keras dalam penolakan ini. Namun demikian, mereka tidak membencinya, bahkan dia dicintai dan diagungkan di dalam hati mereka. Akan tetapi, Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam adalah lebih dicintai oleh mereka dan perintahnya melebihi setiap makhluk lainnya.</p>
<p>Oleh karena itu, apabila perintah rasul itu bertentangan dengan perintah selainnya, maka perintah rasul adalah lebih utama untuk didahulukan dan diikuti. Hal ini tidak dihalang-halangi oleh pengagungan terhadap orang yang bertentangan dengan perintahnya, walaupun orang itu mendapat ampunan. Orang yang bertentangan itu tidak membenci apabila perintahnya itu diingkari apabila memang ternyata perintah Rasulullah itu bertentangan dengannya. Bagaimana mungkin mereka akan membenci hal itu, sedangkan mereka telah memerintahkan kepada para pengikutnya, dan mereka telah mewajibkan mereka untuk meninggalkan perkataan-perkataan yang bertentangan dengan sunnah.&#8221;</p>
<p><strong>(Di sadur dari Mukaddimah Kitab Shifatu Shalatiin Nabii Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam, karya Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullah).</strong></p>
<p>Artikel dari : <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;70d5258bab0b84bb8eaf415309711ada&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/175" target="_blank"><span>http://thetrueideas.multip</span>ly.com/journal/item/175</a></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fadealam.890m.com%2F2009%2F12%2F04%2Fperkataan-empat-imam-madzhab-dalam-mengikuti-sunnah.html&amp;linkname=PERKATAAN%20EMPAT%20IMAM%20MADZHAB%20DALAM%20MENGIKUTI%20SUNNAH"><img src="http://adealam.890m.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.890m.com/2009/12/04/perkataan-empat-imam-madzhab-dalam-mengikuti-sunnah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biografi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani</title>
		<link>http://adealam.890m.com/2009/12/04/biografi-syaikh-muhammad-nashiruddin-al-albani.html</link>
		<comments>http://adealam.890m.com/2009/12/04/biografi-syaikh-muhammad-nashiruddin-al-albani.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 13:26:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.890m.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Beliau adalah Pembaharu Islam (mujadid) pada abad ini. Karya dan jasa-jasa beliau cukup banyak dan sangat membantu umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu Hadits. Beliau telah memurnikan Ajaran islam terutama dari hadits-hadits lemah dan palsu, meneliti derajat hadits.

Nasab (Silsilah Beliau)
Nama beliau adalah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani. Dilahirkan pada tahun 1333 H [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beliau adalah Pembaharu Islam (mujadid) pada abad ini. Karya dan jasa-jasa beliau cukup banyak dan sangat membantu umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu Hadits. Beliau telah memurnikan Ajaran islam terutama dari hadits-hadits lemah dan palsu, meneliti derajat hadits.<br />
<span id="more-167"></span><br />
<strong>Nasab (Silsilah Beliau)</strong><br />
Nama beliau adalah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani. Dilahirkan pada tahun 1333 H di kota Ashqodar ibu kota Albania yang lampau. Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya, lantaran kecintaan terhadap ilmu dan ahli ilmu. Ayah al Albani yaitu Al Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari`at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul), yang ketika Raja Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, maka Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya beliau memutuskan untuk berhijrah ke Syam dalam rangka menyelamatkan agamanya dan karena takut terkena fitnah. Beliau sekeluargapun menuju Damaskus.</p>
<p>Setiba di Damaskus, Syeikh al-Albani kecil mulai aktif mempelajari bahasa arab. Beliau masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum`iyah al-Is`af al-Khairiyah. Beliau terus belajar di sekolah tersebut tersebut hingga kelas terakhir tingkat Ibtida`iyah. Selanjutnya beliau meneruskan belajarnya langsung kepada para Syeikh. Beliau mempelajari al-Qur`an dari ayahnya sampai selesai, disamping itu mempelajari pula sebagian fiqih madzab Hanafi dari ayahnya.</p>
<p>Syeikh al-Albani juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul, sehingga beliau menjadi seorang ahli yang mahsyur. Ketrampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencahariannya.</p>
<p>Pada umur 20 tahun, pemuda al-Albani ini mulai mengkonsentrasi diri pada ilmu hadits lantaran terkesan dengan pembahasan-pembahsaan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul al-Mughni `an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar. Sebuah kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya` Ulumuddin al-Ghazali. Kegiatan Syeikh al-Albani dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya seraya berkomentar. Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit (bangkrut).</p>
<p>Namun Syeikh al-Albani justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, Syeikh al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Karenanya, beliau memanfaatkan Perpustakaan adh-Dhahiriyah di sana (Damaskus). Di samping juga meminjam buku-buku dari beberapa perpustakaan khusus. Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai beliau menutup kios reparasi jamnya. Beliau lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan adh-Dhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan.</p>
<p>Akhirnya kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau. Bahkan kemudiaan beliau diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, beliau menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula pulangnya ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, beliau justru pulang setelah sholat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.</p>
<p><strong>Pengalaman Penjara</strong><br />
Syeikh al-Albani pernah dipenjara dua kali. Kali pertama selama satu bulan dan kali kedua selama enam bulan. Itu tidak lain karena gigihnya beliau berdakwah kepada sunnah dan memerangi bid`ah sehingga orang-orang yang dengki kepadanya menebarkan fitnah.</p>
<p><strong>Beberapa Tugas yang Pernah Diemban</strong><br />
Syeikh al-Albani Beliau pernah mengajar di Jami`ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H, mengajar tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits. Setelah itu beliau pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh al-Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu. Pada tahun 1395 H hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam`iyah Islamiyah di sana. Mandapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H.</p>
<p><strong>Beberapa Karya Beliau</strong><br />
Karya-karya beliau amat banyak, diantaranya ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa manuskrip dan ada yang mafqud (hilang), semua berjumlah 218 judul. Beberapa Contoh Karya Beliau yang terkenal adalah :<br />
1. Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah<br />
2. Al-Ajwibah an-Nafi`ah `ala as`ilah masjid al-Jami`ah<br />
3. Silisilah al-Ahadits ash Shahihah<br />
4. Silisilah al-Ahadits adh-Dha`ifah wal maudhu`ah<br />
5. At-Tawasul wa anwa`uhu<br />
6. Ahkam Al-Jana`iz wabida`uha</p>
<p>Di samping itu, beliau juga memiliki kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset-kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat.</p>
<p>Selanjutnya Syeikh al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik berupa buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku foto copyan, manuskrip-manuskrip (yang ditulis oleh beliau sendiri ataupun orang lain) semuanya diserahkan ke perpustakaan Jami`ah tersebut dalam kaitannya dengan dakwah menuju al-Kitab was Sunnah, sesuai dengan manhaj salafush Shalih (sahabat nabi radhiyallahu anhum), pada saat beliau menjadi pengajar disana.</p>
<p><strong>Wafatnya</strong><br />
Beliau wafat pada hari Jum`at malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yoradania. Rahimallah asy-Syaikh al-Albani rahmatan wasi`ah wa jazahullahu`an al-Islam wal muslimiina khaira wa adkhalahu fi an-Na`im al-Muqim.<br />
Sumber: <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;70d5258bab0b84bb8eaf415309711ada&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=11" target="_blank"><span>http://ahlulhadist.wordpre</span>ss.com//?p=11</a></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fadealam.890m.com%2F2009%2F12%2F04%2Fbiografi-syaikh-muhammad-nashiruddin-al-albani.html&amp;linkname=Biografi%20Syaikh%20Muhammad%20Nashiruddin%20Al-Albani"><img src="http://adealam.890m.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.890m.com/2009/12/04/biografi-syaikh-muhammad-nashiruddin-al-albani.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buruknya Haus akan Kekuasaan</title>
		<link>http://adealam.890m.com/2009/12/04/buruknya-haus-akan-kekuasaan.html</link>
		<comments>http://adealam.890m.com/2009/12/04/buruknya-haus-akan-kekuasaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 13:14:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jabatan]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.890m.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Redaksi Buletin Jum’at Al-Atsariyyah
 Abdur Rahman bin Samuroh -radhiyallahu ‘anhu- berkata, &#8220;Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda kepadaku,

يَا عَبْدَ الرَّحْمنِ بْنَ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلِ اْلإِمَارَةَ, فَإِنَّكَ إِنْ أُوْتِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا, وَإِنْ أُوْتِيْتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
&#8220;Wahai Abdur Rahman bin Samuroh, janganlah engkau meminta kekuasaan. Karena jika kau diberi kekuasaan dari hasil meminta, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Redaksi Buletin Jum’at Al-Atsariyyah</p>
<p><span> </span>Abdur Rahman bin Samuroh -radhiyallahu ‘anhu- berkata, &#8220;Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda kepadaku,</p>
<div>
يَا عَبْدَ الرَّحْمنِ بْنَ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلِ اْلإِمَارَةَ, فَإِنَّكَ إِنْ أُوْتِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا, وَإِنْ أُوْتِيْتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا</p>
<p>&#8220;Wahai Abdur Rahman bin Samuroh, janganlah engkau meminta kekuasaan. Karena jika kau diberi kekuasaan dari hasil meminta, maka engkau akan diserahkan kepada kekuasaan itu (yakni, dibiarkan oleh Allah &amp; tak akan ditolong, pent.). Jika engkau diberi kekuasaan, bukan dari hasil meminta, maka engkau akan ditolong&#8221;. [HR. Al-Bukhoriy (6622, 6722, 7146, &amp; 7147), dan Muslim (4257, &amp; 4692)]<br />
<span id="more-162"></span><br />
Abu Musa Al-Asy’ariy-radhiyallahu ‘anhu- berkata,</p>
<p>دَخَلْتُ عَلَى النَّبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلاَنِ مِنْ بَنِيْ عَمِّيْ, فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَمِّرْنَا عَلَى بَعْضِ مَا وَلاَّكَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ, وَقَالَ الآخَرُ مِثْلَ ذَلِكَ, فَقَالَ: إِنَّا,وَاللهِ ! لاَ نُوَلِّيْ عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ وَلاَ أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ</p>
<p>&#8220;Aku pernah masuk menemui Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersama dua orang sepupuku. Seorang diantara mereka berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, jadikanlah kami pemimpin dalam perkara yang Allah -Azza wa Jalla- berikan kepadamu. Orang kedua juga berkata demikian. Maka beliau bersabda, &#8220;Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada orang yang memintanya, dan tidak pula orang yang rakus kepadanya&#8221;. [HR. Al-Bukhoriy (7149), dan Muslim (1733)]</p>
<p>Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p>لَنْ أَوْ لاَ نَسْتَعْمِلُ عَلَى عَمَلِنَا مَنْ أَرَادَهُ</p>
<p>&#8220;Kami tak akan mempekerjakan dalam urusan kami orang yang menginginkannya&#8221;. [HR. Al-Bukhoriy (2261, 6923, &amp; 7156), dan Muslim (1733)]</p>
<p>Seorang yang meminta kekuasaan dan rakus terhadapnya akan mengalami penyesalan, sebab ia bukan ahlinya. Kekuasaan menjadi sebuah kenikmatan sementara, sedang kesusahan dan tanggung jawab akan menanti di Padang Mahsyar.</p>
<p>Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p>إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُوْنَ عَلَى اْلإِمَارَةِ وَسَتَكُوْنُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ, فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الفَاطِمَةُ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya kalian kelak akan rakus terhadap kekuasaan, dan kekuasan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Kekuasaan adalah sebaik-baik penetek(yakni, awalnya penuh kelezatan dan kenikmatan, pent.), dan sejelek-jelek penyapih (yakni, di akhirnya, saat terjadi kudeta, dan pertanggungjawaban di hari akhir, pent.)&#8221;. [HR. Al-Bukhoriy (6729), dan An-Nasa’iy (4211 &amp; 5385)]</p>
<p><span> &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</span><span>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</span><span>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</span><span>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.<br />
<span> &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</span><span>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</span><span>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</span><span>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Sumber : <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;70d5258bab0b84bb8eaf415309711ada&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1431" target="_blank"><span>http://www.salafy.or.id/mo</span><span>dules/artikel2/artikel.php</span>?id=1431</a></div>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fadealam.890m.com%2F2009%2F12%2F04%2Fburuknya-haus-akan-kekuasaan.html&amp;linkname=Buruknya%20Haus%20akan%20Kekuasaan"><img src="http://adealam.890m.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.890m.com/2009/12/04/buruknya-haus-akan-kekuasaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Adalah,,,!!!</title>
		<link>http://adealam.890m.com/2009/12/03/cinta-adalah.html</link>
		<comments>http://adealam.890m.com/2009/12/03/cinta-adalah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 12:32:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[
Awalnya cinta adalah keterjebakan
Jalan yang meluncurkanya adalah kekaguman
Dan akhirnya adalah ketertarikan.
Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata,
tetapi masih peduli terhadapnya.
Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu,
kamu masih menunggunya dengan setia.
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata ,
&#8221; Aku turut berbahagia untukmu &#8220;.
Bukti terbaik cinta adalah kepercayaan.
Ketahuilah, antara cinta dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-153"></span></p>
<p>Awalnya cinta adalah keterjebakan<br />
Jalan yang meluncurkanya adalah kekaguman<br />
Dan akhirnya adalah ketertarikan.</p>
<p>Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata,<br />
tetapi masih peduli terhadapnya.</p>
<p>Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu,<br />
kamu masih menunggunya dengan setia.</p>
<p>Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain<br />
dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata ,<br />
&#8221; Aku turut berbahagia untukmu &#8220;.</p>
<p>Bukti terbaik cinta adalah kepercayaan.</p>
<p>Ketahuilah, antara cinta dan rasa ingin memiliki<br />
adalah sesuatu yang berbeda.<br />
Sadarilah, antara cinta dan jodoh<br />
adalah dua hal yang terpisah.<br />
Bersyukurlah bagi pemilik jodoh sekaligus cintanya.</p>
<p>Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan<br />
perpisahan yang menyedihkan,<br />
dan yang mampu membuka fikirannya,<br />
merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan.</p>
<p>Berilah cinta tanpa meminta balasan<br />
dan pastikan kita akan menemui cinta<br />
yang jauh lebih indah.</p>
<p>Kadangkala atas nama cinta<br />
orang berjuang mempertahankan cintanya,<br />
tapi justru kerana cinta juga, orang boleh jadi berkorban<br />
untuk memamerkan kebodohannya.</p>
<p>Cinta memang bisa demikian memabukkan<br />
jika tidak dibingkai dengan kedewasaan dan kearifan.</p>
<p>Apabila cintamu belum tergapai, bebaskanlah dirimu,<br />
biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya<br />
dan terbang ke alam bebas lagi.</p>
<p>Ingatlah, kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya &#8230;<br />
Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu<br />
mati bersamanya.</p>
<p>Jika engkau sungguh-sungguh menginginkan cinta,<br />
maka cintalah pada akhirnya yang justru menunggumu.</p>
<p>Usaha tanpa cinta sering berakhir dengan petaka<br />
Cinta tanpa usaha hanyalah mimpi di siang bolong.</p>
<p>Jika pecintamu tidak memberlakukan cintanya secara adil<br />
kepadamu di setiap kondisi,<br />
maka dia bukanlah apa-apa,<br />
kecuali penipu yang menyelipkan kejahatan<br />
di balik gemerlapnya keindahan pakaian cinta-kasih.</p>
<p>Ya . . . teruslah terbang bersama bintang-bintang mimpimu,<br />
sampai kau mampu menggapai warna aslimu . . .<br />
Karena tak jarang kecantikan &amp;amp; ketampanan<br />
hanyalah topeng bagi srigala jiwa !</p>
<p>Hidup tak selamanya indah,<br />
tapi yang indah itu akan hidup selamanya<br />
dalam kenangan !</p>
<p>Dengan sedikit kejernihan,<br />
hidup ini menghadirkan samudra dan langit luas<br />
tempat mengekspresikan cinta setiap saat.</p>
<p>Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai<br />
menjadi dirinya sendiri,<br />
dan tidak merubahnya<br />
menjadi gambaran yang kamu inginkan.<br />
Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri<br />
yang kamu temukan di dalam dirinya.</p>
<p>Cinta bukanlah kata murah dan lumrah<br />
dituturkan dari mulut ke mulut,<br />
tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci<br />
jika manusia dapat menilai kesuciannya.</p>
<p>Cinta telah menjadikan kita bersayap,<br />
sehingga kemanapun kita terbang begitu mudah dan enteng.</p>
<p>Kekuatan cinta telah merubah seseorang<br />
untuk menikmati konser hatinya sendiri,<br />
sehingga baja sekalipun dapat tersulam menjadi sutra.<br />
Di manakah adanya hukum yang dapat menghentikan<br />
lajunya sebuah cinta ?</p>
<p>Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia<br />
kerana cinta itu membangkitkan semangat hukum-hukum kemanusiaan<br />
dan gejala alami pun tak mampu mengubah perjalanannya.</p>
<p>Cinta sering kali membuat hal tidak mungkin<br />
menjadi mungkin.</p>
<p>Cinta bukanlah dari kata-kata<br />
tetapi dari segumpal keinginan yang ditanam<br />
pada hati yang memerlukan.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fadealam.890m.com%2F2009%2F12%2F03%2Fcinta-adalah.html&amp;linkname=Cinta%20Adalah%2C%2C%2C%21%21%21"><img src="http://adealam.890m.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.890m.com/2009/12/03/cinta-adalah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Mengucapkan &#8220;SAYA TIDAK TAHU&#8221;</title>
		<link>http://adealam.890m.com/2009/11/22/belajar-mengucapkan-saya-tidak-tahu.html</link>
		<comments>http://adealam.890m.com/2009/11/22/belajar-mengucapkan-saya-tidak-tahu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 14:06:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.890m.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed
Di samping golongan para pengingkar sunnah yang menolak hadits-hadits shahih dengan akal dan hawa nafsunya, ada pula golongan yang &#8220;sok tahu&#8221;. Mereka berbicara sesuatu tanpa ilmu. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Dajjal itu akan keluar dari segitiga bermuda, Dajjal adalah Amerika karena memandang dengan sebelah mata yaitu mata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed</p>
<p>Di samping golongan para pengingkar sunnah yang menolak hadits-hadits shahih dengan akal dan hawa nafsunya, ada pula golongan yang <strong>&#8220;sok tahu&#8221;</strong>. Mereka berbicara sesuatu tanpa ilmu. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Dajjal itu akan keluar dari segitiga bermuda, Dajjal adalah Amerika karena memandang dengan sebelah mata yaitu mata dunia, Ya&#8217;juj wa ma&#8217;juj adalah pasukan mongol dan lain-lain.</p>
<p><span id="more-150"></span><br />
Maka pada kesempatan kali ini akan kami bawakan beberapa dalil dan ucapan para shahabat dan ulama yang membimbing kita untuk bejalar mengatakan <strong>&#8220;tidak tahu&#8221;</strong> terhadap hal-hal yang memang tidak diketahui, apalagi pada perkara-perkara ghaib yang tidak ada perincian dan penjelasannya dari al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah.<br />
Allah <em>Subhanahu Wara&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً. (الإسراء: 36)</p>
<p><em>Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan ten-tangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan-jawabannya</em>. (al-Israa&#8217;: 36)</p>
<p>Dalam ayat tersebut Allah <em>Subhanahu wata&#8217;ala</em> mengajarkan kepada kita agar tidak berbicara tentang sesuatu, kecuali dengan ilmu. Apalagi jika masalah itu berkaitan dengan perkara-perkara ghaib, apakah yang berkaitan dengan dzat Allah, perbuatan Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, atau pun perkara-perkara yang belum terjadi dan akan datang seperti tanda-tanda hari kiamat, hari kebangkitan, hisab, surga dan neraka atau pun yang selainnya.<br />
Dalam masalah-masalah tersebut, kita tidak mungkin bisa mengetahuinya dengan panca indera atau akal kita. Kita hanya mengetahui sebatas apa yang diberitakan dalam al-Qur&#8217;an dan hadits yang shahih sesai dengan apa yang dipahami oleh para shahabat <em>Radhiallahu &#8216;anhum</em></p>
<p>Mu&#8217;adz bin Jabbal <em>Radhiallahu &#8216;anhu</em> ketika ditanya oleh Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam </em> tentang sesuatu yang tidak diketahui, maka beliau menjawab allahu wa rasuluhu a&#8217;lam. Disebutkan dalam satu hadits yang diriwayat-kan dari Mu&#8217;adz bin Jabbal <em>Radhiallahu &#8216;anhu</em> Ketika Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> berkata kepada Mu&#8217;adz:</p>
<p>يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ؟</p>
<p>Ya Mu&#8217;adz tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya?<br />
Mu&#8217;adz <em>Radhiallahu &#8216;anhu</em> menjawab:</p>
<p>اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.</p>
<p>Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.<br />
Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> bersabda:</p>
<p>أَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَلاَ يُشْرَكَ بِهِ شَيْئًا.</p>
<p>Hak Allah atas hamba-Nya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukannya dengan sesuatu apa pun.<br />
Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> bertanya lagi:</p>
<p>أَتَدْرِي مَا حَقُّهُمْ عَلَيْهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ؟</p>
<p>Tahukah engkau apa hak mereka jika telah menunaikannya?<br />
Mu&#8217;adz menjawab:</p>
<p>اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.</p>
<p>Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Ini menunjukkan adab seorang shahabat ketika ditanya dengan sesuatu yang tidak dia ketahui, mereka mengatakan: <em>&#8220;Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu&#8221;</em><strong>1)</strong>.<br />
Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> sendiri pun diajarkan oleh Allah <em>Subhanahu Wata&#8217;ala</em> untuk menjawab <strong>&#8220;allahu &#8216;alam&#8221;</strong> ketika ditanya tentang ruh, karena itu adalah urusan Allah.<br />
Allah <em>Subhanahu Wata&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً. (الإسراء: 85)</p>
<p><em>Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: &#8220;Roh itu termasuk urus-an Rabb-ku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit&#8221;.</em> (al-Isra&#8217;: 85)</p>
<p>Maka Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> tidak malu untuk mengatakan <strong>&#8220;tidak tahu&#8221;</strong> pada perkara-perkara yang memang Allah tidak turunkan ilmu kepadanya. Atau beliau menunda jawabannya hingga turun jawaban dari Allah <em>Subhanahu Wata&#8217;ala</em>.<br />
Hikmah dari jawaban-jawaban beliau <em>Shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em> ini adalah: kaum Yahudi dan Musyrikin mengetahui betul bahwa Rasulullah  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> tidak mengucapkan dari hawa nafsunya, melainkan wahyu Allah yang diturunkan kepadanya. Jika ada keterangan wahyu dari Allah beliau jawab, dan jika tidak, maka Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> menundanya.</p>
<p>Imam asy-Sya&#8217;bi <em>Rahimahullah</em> pernah ditanya tentang satu masalah, beliau menjawab: <strong>&#8220;Saya tidak tahu&#8221;</strong>. Maka si penanya heran dan berkata: <em>&#8220;Apakah engkau tidak malu mengatakan &#8216;tidak tahu&#8217;, padahal engkau adalah ahlul fiqh negeri Iraq?&#8221;</em> Beliau menjawab: <strong>&#8220;Tidak, karena para malaikat sekalipun tidak malu mengatakan &#8216;tidak tahu&#8217; ketika Allah tanya:</strong></p>
<p>أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ. (البقرة: 31)</p>
<p><em>&#8220;Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar!&#8221;</em>. (al-Baqarah: 31)</p>
<p>Maka para malaikat menjawab:</p>
<p>قَالُوا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. (البقرة: 32)</p>
<p>Mereka menjawab: <em>&#8220;Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.</em> (al-Baqarah: 32)<br />
(Lihat ucapan asy-Sya&#8217;bi dalam Jami&#8217; Bayanil &#8216;Ilmi wa Fadllihi (2/51) melalui Hilyatul &#8216;Alimi al-Mu&#8217;alim karya Salim bin &#8216;Ied al-Hilali).</p>
<p>Dakwah ini adalah menyampaikan apa yang Allah turunkan dan apa yang Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> jelaskan. Bukan buatan sendiri, berpikir sendiri, atau memberat-beratkan diri dengan sesuatu yang tidak ada ilmu padanya.<br />
Allah سبحانه وتعالى berfirman:</p>
<p>قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ (86) إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (87) وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ. (ص: 86-88)</p>
<p>Katakanlah (hai Muhammad): <em>&#8220;Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kalian atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan (memaksakan diri).&#8221;</em> Al-Qur&#8217;an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kalian akan mengetahui (kebenaran) berita al-Qur&#8217;an setelah beberapa waktu lagi. (Shaad: 86-88</p>
<p>Karena ayat inilah Ibnu Mas&#8217;ud <em>Radhiallahu &#8216;anhu</em> marah ketika ada seseorang yang berbicara tentang tanda-tanda hari kiamat dengan tanpa ilmu. Beliau <em>Radhiallahu &#8216;anhu</em> berkata:</p>
<p>مَنْ كَانَ عِنْدَهُ عِلْمُ فَلْيَقُلْ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ عِلْمُ فَلْيُقُلْ: اللهُ أَعْلَمُ، فَإِنَّ اللهَ قَالَ لِنَبِيِّهِ عَلَيْهِ وَسَلاَّمَ:<sup>1</sup>.</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang memiliki ilmu maka katakanlah! Dan barangsiapa yang tidak memiliki ilmu maka katakanlah: <strong>&#8216;Allahu a&#8217;lam!&#8221;</strong> Karena sesungguhnya Allah telah mengatakan kepada nabi-Nya:<sup>2</sup>&#8221;</em>.<br />
(Atsar riwayat ad-Darimi juz 1/62; Ibnu Abdil Barr dalam Jami&#8217; Bayaanil Ilmi, juz 2/51; Baihaqi dalam al-Madkhal no. 797; al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Faqiih wal Mutafaqih; melalui nukilan Hilyatul Alimi al-Mu&#8217;allim, hal. 59)</p>
<p>Demikian pula Abu Bakar Shiddiq <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> ketika ditanya tentang tafsir suatu ayat yang tidak beliau ketahui, beliau menjawab: <em>&#8220;Bumi mana yang akan aku pijak, langit mana yang akan menaungiku, mau lari ke mana aku atau apa yang akan aku perbuat kalau aku mengatakan tentang ayat Allah tidak sesuai dengan apa yang Allah kehendaki&#8221;</em>. (Atsar riwayat Ibnu Abdil Barr dalam Jami&#8217; Bayanil &#8216;Ilmi, juz 2/52; Bai-haqi dalam al-Madkhal, no. 792. Lihat Hilyatul &#8216;Alimi al-Mu&#8217;allim, hal. 60)</p>
<p>Diriwayatkan ucapan yang semakna dari Ali bin Abi Thalib <em> Radhiallahu &#8216;anhu</em> dan juga dinukilkan dari para shahabat oleh para ulama setelahnya seperti Maimun bin Mihran, Amir asy-Sya&#8217; bi, Ibnu Abi Mali-kah dan lain-lain. (Lihat sumber yang sa-ma hal. 60)<br />
Pernah Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> ditanya tentang satu masalah, kemudian beliau menjawab: &#8220;Aku tidak mempunyai ilmu tentangnya&#8221;, (padahal pada saat itu beliau sebagai khalifah –pent.). Beliau berkata setelah itu: <em>&#8220;Duhai dinginnya hatiku (3x)&#8221;</em>. Maka para penanya berkata kepadanya: <em>&#8220;Wahai Amirul Mukminin, apa maksudmu?&#8221;</em> Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> menjawab: <em> &#8220;Yakni dinginnya hati seseorang ketika ditanya tentang sesuatu  yang dia tidak ketahui, kemudian ia menjawab: <strong>&#8220;Wallahu a&#8217;lam&#8221;</strong>&#8220;</em>. (Riwayat ad-Darimi 1/ 62-63; al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqih, juz 2 hal. 171; Baihaqi dalam al-Madkhal no. 794 dari jalan yang banyak. Lihat Hilyatul &#8216;Alimi al-Mu&#8217;alim hal. 60)</p>
<p>Kejadian yang sama juga terjadi pada Ibnu Umar <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> , ketika beliau ditanya: <em>&#8220;Apakah bibi mendapatkan warisan?&#8221;</em> Be-liau menjawab: <strong>&#8220;Saya tidak tahu&#8221;</strong>. Kemudian si penanya berkata: <em>&#8220;Engkau tidak tahu dan kami pun tidak tahu, lantas…?&#8221;</em> Maka Ibnu Umar<em>Radhiallahu &#8216;anhuma</em> berkata: <em>&#8220;Pergilah kepada para ulama di Madinah, dan tanyalah kepada mereka&#8221;</em>. Maka ketika dia berpaling, dia berkata: &#8220;Sungguh mengagumkan, seorang Abu Abdirrahman (Yakni Ibnu Umar <em>radhiallahu &#8216;anhum</em>) ditanya sesuatu yang beliau tidak tahu, beliau katakan: <strong>&#8220;Saya tidak tahu&#8221;</strong>. (Riwayat ad-Darimi 1/63; Ibnu Abdi Barr dalam Jami&#8217; Bayanil &#8216;Ilmi, al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqih, juz 2 hal. 171-172; al-Baihaqi dalam al-Madkhal, 796. Lihat Hilyatul &#8216;Alimi al-Mu&#8217;alim hal. 61)</p>
<p>Datang seseorang kepada Imam Malik bin Anas <em>Rahimahullah</em> bertanya tentang satu masalah hingga beberapa hari beliau belum menjawab dan selalu mengatakan: <strong>&#8220;Saya tidak tahu&#8221;</strong>. Sampai kemudian orang itu datang dan berkata: <em>&#8220;Wahai Abu Abdillah, aku akan keluar kota dan aku sudah sering pulang pergi ke tempatmu (yakni meminta jawaban)&#8221;</em>. Maka Imam Malik menundukkan kepalanya beberapa saat, kemudian mengangat kepalanya dan berkata: <strong>&#8220;Masya Allah Ya hadza, aku berbicara adalah untuk mengharapkan pahala. Namun, aku betul-betul tidak mengetahui apa yang kamu tanyakan.&#8221;</strong> (Riwayat Abu Nu&#8217;aim dalam al-Hilya, 6/323; Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayanil Ilmi, 2/53; Baihaqi dalam al-Madhkal no. 816; al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqih, 2/174; Lihat Hilyatul &#8216;Alimi al-Mu&#8217;alim, hal. 63).</p>
<p>Dari beberapa ucapan di atas, kita diperintahkan untuk menyampaikan apa yang kita ketahui dari al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah, dan dilarang untuk berbicara pada sesuatu yang tidak kita ketahui.</p>
<p>Sebagai penutup kita dengarkan nasehat seorang ulama sebagai berikut:<br />
<strong>&#8220;Belajarlah engkau untuk mengucapkan &#8217;saya tidak tahu&#8217;. Dan janganlah belajar mengatakan &#8217;saya tahu&#8217; (pada apa yang kamu tidak tahu –pent.), karena sesungguh-nya jika engkau mengucapkan &#8217;saya tidak tahu&#8217; mereka akan mengajarimu sampai engkau tahu. tetapi jika engkau mengatakan &#8216;tahu&#8217;, maka mereka akan menghujanimu dengan pertanyaan hingga kamu tidak tahu&#8221;.</strong> (Jami&#8217; Bayanil &#8216;Ilmi, 2/55 melalui nukilan Hilyatul &#8216;Alim al-Mu&#8217;alim, Salim bin &#8216;Ied al-Hilaly, hal. 66)</p>
<p>Perhatikanlah pula ucapan Imam asy-Sya&#8217;bi <em>rahimahullah</em> : <strong>&#8220;Kalimat &#8217;saya tidak tahu&#8217; adalah setengah ilmu&#8221;</strong>. (Riwayat ad-Darimi 1/ 63; al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqih, juz 2/173; Baihaqi dalam al-Madkhal no. 810. Lihat Hilyatul &#8216;Alimi al-Mu&#8217;alim hal. 65)<br />
Maka kalau seseorang &#8217;sok tahu&#8217; tentang sesuatu yang tidak ada ilmu padanya, berarti bodoh di atas kebodohan. Yakni bodoh tentang ilmunya dan bodoh tentang dirinya (Tidak menyadari kebodohannya).</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan Kaki</span>:<br />
<strong>1)</strong> Jawaban di atas diucapkan jika pertanyaannya berkaitan dengan masalah syari&#8217;at. Namun, jika perta-nyaannya berkaitan dengan masalah takdir dan sejenisnya, jawabannya cukup dengan <strong>&#8220;wallahu a&#8217;lam&#8221;</strong>, karena Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihi wasalam</em> sendiri pun tidak mengetahuinya. (Demikianlah yang kami dapatkan dari Syaikh &#8216;Utsaimin dalam majlisnya).</p>
<p>Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 74/Th. II	07 Rajab 1426 H/12 Agustus  2005 M</p>
<ol class="footnotes"><li id="footnote_0_150" class="footnote">قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ</li><li id="footnote_1_150" class="footnote">&#8221;Kata-kanlah (hai Muhammad): &#8220;Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan (me-maksakan diri&#8221;</li></ol><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fadealam.890m.com%2F2009%2F11%2F22%2Fbelajar-mengucapkan-saya-tidak-tahu.html&amp;linkname=Belajar%20Mengucapkan%20%26%238220%3BSAYA%20TIDAK%20TAHU%26%238221%3B"><img src="http://adealam.890m.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.890m.com/2009/11/22/belajar-mengucapkan-saya-tidak-tahu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sikap Seorang Muslim Terhadap HADITS</title>
		<link>http://adealam.890m.com/2009/11/22/sikap-seorang-muslim-terhadap-hadits-4.html</link>
		<comments>http://adealam.890m.com/2009/11/22/sikap-seorang-muslim-terhadap-hadits-4.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 13:33:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://adealam.890m.com/2009/11/22/sikap-seorang-muslim-terhadap-hadits-4.html</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Ustadz Muhammad Umar As Sewed
Ahlul bid’ah alergi terhadap hadits
Sebagian kaum muslimin, khususnya kaum mu’tazilah dan para rasionalis atau orang-orang yang terpengaruh dengan mereka, menolak berita-berita hadits yang
&#8211;menurut anggapan mereka&#8211; tidak masuk akal. Mereka menganggap hadits-hadits tersebut hanya akan membuat orang lari dari Islam.
Ketika mereka mendengarkan hadits-hadits tentang diangkatnya Nabi Isa  &#8216;Alaihis salam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Ustadz Muhammad Umar As Sewed</p>
<p><strong>Ahlul bid’ah alergi terhadap hadits</strong><br />
Sebagian kaum muslimin, khususnya kaum mu’tazilah dan para rasionalis atau orang-orang yang terpengaruh dengan mereka, menolak berita-berita hadits yang<br />
&#8211;menurut anggapan mereka&#8211; tidak masuk akal. Mereka menganggap hadits-hadits tersebut hanya akan membuat orang lari dari Islam.<br />
Ketika mereka mendengarkan hadits-hadits tentang diangkatnya Nabi Isa <em> &#8216;Alaihis salam</em> dalam keadaan hidup, akan turunnya beliau pada akhir zaman, berita tentang <strong>Dajjal</strong> &#8211;yang sudah ada wujudnya dalam keadaan terbelenggu&#8211; atau tentang  <strong>Ya’juj wa Ma’juj</strong> yang terus menerus berupaya untuk keluar dari benteng yang dibuat oleh Dzulqarnain dan lain-lainnya, mereka benar-benar gelisah, panas dadanya seraya berkata: <em>“Untuk apa hadits-hadits seperti ini disampaikan. Hadits-hadits ini akan menjadikan manusia semakin jauh dari Islam”</em>. Mereka mengucapkan ucapan-ucapan olok-olok, celaan dan berbagai macam ucapan penolakan terhadap hadits-hadits tersebut. Keadaan mereka ini persis seperti yang dikatakan oleh para ulama tentang ahlul bid’ah:</p>
<p><span id="more-147"></span> Berkata Ahmad Ibnu Sinan al-Qathan: <em>“Tidak ada seorang ahlul bid’ah pun, kecuali mesti akan membenci ahlul hadits. Dan tidaklah seseorang mengadakan kebid’ahan, kecuali akan dicabut manisnya hadits dari hatinya.&#8221;</em> (Diriwayatkan oleh Imam Abu Utsman ash-Shabuni dalam Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits, hal. 300).</p>
<p>Berkata Abu Nashr Ibnu Sallam al-Faqiih: <em>“Tidak ada yang paling berat atas kelompok sesat, dan tidak pula yang paling dibenci oleh mereka, melainkan mendengarkan hadits dan periwayatan hadits dengan sanadnya”</em>. (Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits, hal. 302).</p>
<p><strong>Orang mukmin mendapatkan faedah dari hadits</strong><br />
Sungguh kalau saja di hati mereka ada keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya mereka tidak akan bersikap sinis terhadap hadits. Orang-orang yang beriman akan semakin beriman dengan berita-berita hadits tersebut. Mereka akan semakin yakin bahwa hari kiamat telah dekat dan benar-benar akan terjadi. Kemudian mereka takut kepada Allah dan beramal dengan amalan yang shalih.<br />
Namun sayang, Mereka –kaum rasionalis dan mu’tazilah- adalah orang-orang yang mengambil pelajaran dari kaum orientalis kafir yang tidak mau percaya (baca: beriman) kepada hadits, kecuali setelah <strong>“dibuktikan”</strong> secara akal. Padahal, betapa banyak perkara-perkara ghaib yang akal, telinga, mata dan seluruh panca indera kita tidak dapat membuktikannya. Ciri khas orang yang taqwa adalah beriman kepada hal-hal yang ghaib –yang tidak dapat diraba oleh panca indera manusia.</p>
<p>الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. (البقرة: 1-3)</p>
<p><em>Alif Laam Miim. Kitab (al-Qur&#8217;an) ini ti-dak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.</em> (al-Baqarah: 1-3)</p>
<p><strong>Menolak hadits menyebabkan kesesatan</strong><br />
Maka perlu kiranya nasehat para ulama untuk seluruh kaum muslimin bagaimana seharusnya bersikap terhadap berita-berita hadits dari Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> agar jangan menyimpang dan sesat.<br />
Berkata Abu Bakar ash-Shiddiq <em>Radhiallahu &#8216;anhu</em> : “Aku tidak akan meninggalkan sedikit pun dari apa yang telah diamalkan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasalam , kecuali aku pun mengikutinya. Sungguh aku khawatir jika aku meninggalkan sesuatu dari perintahnya aku akan menyimpang”. (al-Ibaanah oleh Ibnu Bathah, juz 1 hal. 246; lihat Ta’dhimus Sunnah hal. 24)</p>
<p>Kemudian Ibnu Bathah al-Uqbari mengomentari ucapan Abu Bakar <em>Radhiallahu &#8216;anhu</em> di atas: <em>“Lihatlah wahai saudaraku, seorang shiddiq yang besar, beliau Radhiallahu &#8216;anhu mengkhawatirkan dirinya akan sesat jika menyelisihi sedikit saja dari perintah nabinya Shallallahu &#8216;alaihi wasalam. Maka bagaimanakah yang akan terjadi pada zaman ini, saat banyak orang berani memperolok-olokkan nabi mereka dan perintah-perintahnya. Mereka justru berbangga dengan sesuatu yang menyelisihi beliau Shallallahu &#8216;alaihi wasalam, bahkan memperolok-olokan sunnahnya Shallallahu &#8216;alaihi wasalam. Kita meminta kepada Allah Subhanahu wata&#8217;ala perlindungan dari kesesatan dan keselamatan dari kejelekan amal. &#8220;</em> (al-Ibaanah oleh Ibnu Bathah, juz 1 hal. 246; lihat Ta’dhimus Sunnah hal. 24)</p>
<p>Berkata Yazid bin Harun Abu Khalid al-Wasithi <em>Rahimahullah</em> di majlisnya, meriwayatkan hadits tentang dilihatnya Allah pada hari kiamat. Tiba-tiba ada seorang yang berkata di majelisnya: <em>“Wahai Khalid bagaimana maksud hadits ini?”</em>. Maka Yazid bin Harun marah dan gemetar: <em>“Sungguh engkau persis dengan Shabigh</em><strong>1)</strong>, <em>dan betapa perlunya engkau diperlakukan seperti Shabigh. Celaka engkau!! Siapa yang tahu seperti apa dan siapa yang berhak untuk melampaui berita yang datang dalam hadits. Siapa yang berani berbicara dari pribadinya sendiri, kecuali orang yang bo-doh dan kurang agamanya? Kalau engkau mendengar hadits dari Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasalam, tunduklah padanya dan jangan mengada-adakan perkara baru padanya. Sungguh jika kalian mengikutinya dan tidak membantahnya kalian akan selamat. Namun, kalau tidak, niscaya kalian akan binasa.</em> (Diriwayatkan oleh imam ash-Shabuni dalam Aqidatus Salaf ash-Habul Hadits, hal. 236-237)</p>
<p><strong>Jangan membantah hadits shahih dengan hawa nafsu</strong><br />
Berkata Umar bin Abdul Aziz <em>Rahimahullah</em>: <em>“Tidak ada pendapat siapa pun bersama sunnah yang telah disunnahkan oleh Ra-sulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasalam”</em>. (I’lamul Muwaqi’in, Ibnul Qayyim, juz 2 hal. 282)</p>
<p>Yakni, jika telah datang sunnah dari Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em>, maka tidak ada pendapat siapa pun yang boleh menentangnya.<br />
Ini merupakan bantahan yang jelas bagi orang-orang yang menentang hadits-hadits yang shahih dengan pendapatnya sendiri. Yaitu mereka yang menentang hadits dengan ucapan: <strong>“Tapi saya pikir…..”, “Namun saya rasa…..”</strong> atau ucapan <strong>“Tapi menurut saya….” </strong> Dan lain-lain. Yang demikian merupakan bahasa-bahasa penentangan terhadap hadits dengan hawa nafsu. Dengarkanlah ucapan ulama berikut:</p>
<p>Berkata Abu Kilabah <em>Rahimahullah</em>: <em>“Jika seseorang engkau ajak bicara dengan sunnah, kemudian berkata: “Tinggalkan kami dari yang demikian, coba berikan bukti dari al-Qur&#8217;an</em><strong>2)</strong>.<em> Maka ketahuilah kalau dia orang yang sesat”</em>. (Thabaqat Ibnu Sa’ad, juz ke-7 hal. 184; lihat Ta’dhimus Sunnah hal. 25)</p>
<p>Imam Dzahabi <em>Rahimahullah</em> mengomentari ucapan di atas: <em>“Dan jika engkau melihat seorang ahlul kalam, mubtadi’, berkata: <strong>“Tinggalkan kami dari al-Qur&#8217;an dan hadits-hadits aahaad, tapi coba buktikan secara akal”</strong>, maka ketahuilah bahwa dia adalah Abu Jahl. Dan jika engkau melihat seorang sufi, pengikut aliran wihdatul wujud, berkata: <strong>“Tinggalkan kami dari nukilan-nukilan (al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah) maupun akal, tapi coba berikan kepada kami bukti dengan perasaan hati dan naluri&#8221;</strong>, maka ketahuilah bahwa Iblis telah muncul dalam bentuk seorang manusia atau telah merasuk pada orang tersebut. Kalau kamu takut, larilah darinya; kalau kamu berani, jatuhkanlah ia dan duduklah di atas dada-nya kemudian bacakan ayat kursi… (yakni diruqyah –pent.)”</em>. (Siyaar A’laamu Nuba-la, adz-Dzahabi, juz 4 hal. 742)</p>
<p><strong>Wajib menerima hadits shahih</strong><br />
Dengan demikian tidak pantas seorang muslim yang mendengarkan hadits yang shahih, kemudian menolaknya dengan ber-bagai macam alasan hawa nafsunya. Allah mengancam orang yang menyelesihi nabi-Nya setelah jelas hadits baginya.<br />
Allah <em>Subhanahu wata&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا. النساء: 115</p>
<p><em>Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu&#8217;min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Ja-hannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali</em>. (an-Nisaa’: 115</p>
<p>Abul Harits Ibnu Abi Dz’ib <em>Rahimahullah</em> ketika meriwayatkan hadits kepada Abu Hanifah ibnu Sammak, dia ditanya: <strong>“Wahai Abul Harits, apakah engkau sependapat dengan hadits ini?”</strong> Sungguh Abul Harits sangat marah dan memukul dada Abu Hanifah seraya menjerit dengan suara yang keras dan berkata: <em>“Aku sampaikan kepadamu ucapan Rasulullah Shallallau &#8216;alaihi wasalam, kemudian engkau katakan apakah aku sependapat dengannya?!! Ya!, tentu saja aku sependapat dengannya! Dan yang demikian wajib bagiku dan bagi setiap orang yang mendengarnya!!”</em> (Dikisahkan oleh Imam Syafi’i dalam ar-Risalah, hal. 450; lihat Ta’dzimus Sunnah, hal. 26-27)</p>
<p>Berkata Imam Syafi’i <em>Rahimahullah</em>: <em>“Telah sepakat kaum muslimin (secara ijma’) bahwasanya siapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasalam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena ucap-an siapa pun”</em>. (Lihat I’lamul Muwaqi’in, Ibnul Qayyim, juz 2/282)</p>
<p>Bahkan al-Khumaedi mengisahkan bahwa pernah pada suatu hari imam  Syafi’i meriwayatkan hadits, kemudian aku berka-ta kepadanya: <strong>“Apakah engkau sependapat dengannya?”</strong> Maka Imam Syafi’i berkata: <strong>“Apakah engkau melihat aku keluar dari gereja, atau engkau melihat di jubahku ada sabuknya (ciri jubahnya pendeta Nashrani –pent.) hingga ketika aku mendengar ha-dits dari Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasalam kemudian aku tidak sependapat dengannya?!!”</strong> (Hil-yatul Auliya, juz 9/106; Siyar a’lamu nu-bala, 10/34; lihat Ta’dhimus Sunnnah, hal. 28)</p>
<p>Dalam riwayat lain, Imam Syafi’i <em>Rahimahullah</em> pernah ditanya tentang satu masalah, kemudian beliau menjawab dengan hadits. Maka si penanya tadi berkata: <strong>“Apakah engkau sependapat dengan hadits ini?”</strong> Maka Imam Syafi’i gemetar dan keluar otot lehernya seraya berkata: <strong> “Ya hadzaa, bumi mana yang akan aku pijak dan langit mana yang akan menaungiku, kalau aku meriwayatkan satu hadits dari Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasalam kemudian aku tidak sependapat dengannya?!!. Na’am, ‘ala sam’i wal bashar (yakni: Ya, kami dengar dan kami taati)”</strong>. (Sifatu ash-Shahwah, Ibnul Jauzi, juz 2/256)</p>
<p>Berkata Imam Ahmad bin Hambal <em>Rahimahullah</em>: <em>“Barang siapa yang menolak hadits Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasalam, maka dia berada di pinggir jurang kehancuran”</em>. Thabaqat al-Hanabilah, 2/11 dan al-Ibaanah, 1/269; lihat Ta’dhimus Sunnah, hal. 29)</p>
<p>Berkata Imam al-Barbahari: <em>“Jika engkau mendengar seseorang mencela riwayat-riwayat (yakni riwayat hadits yang shahih), menolaknya atau mengingingkan selainnya, maka tuduhlah keislamannya dan jangan ragu kalau dia adalah pengekor hawa nafsu, ahlul bid’ah&#8221;</em>. (Syarhus Sunnah hal. 51)</p>
<p>Berkata Abul Qashim al-Ashbahani: <em>“Berkata ahlus sunnah dari kalangan salaf: <strong>“Barangsiapa yang mencerca riwayat-riwayat hadits, maka sepantasnya untuk dituduh keislamannya”</strong></em>. (al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah, 2/248; lihat Ta’dhimus Sunnah, hal. 29)</p>
<p>Berkata Imam Az-Zuhri <em>Rahimahullah</em> –imamnya para imam pada zamannya-: <em>“Dari Allah keterangannya, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasalam yang menyampaikannya, maka kewajiban kita adalah menerimanya.&#8221;</em> (Aqidatus Salaf Ash-Habil Hadits, hal. 249)</p>
<p>Beliau berkata juga: <em>“Diriwayatkan dari salaf bahwa kaki Islam tidak akan kokoh, kecuali di atas fondasi at-Taslim (yakni me-nerima dan tunduk pada seluruh ucapan Allah dan Rasul-Nya –pent.).</em> (Aqidatus Sa-laf  ash-Habul Hadits hal. 200)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan Kaki</span><br />
<strong>1)</strong> Yakni Shabigh ibnu ‘Ishlin, seorang yang dipukul oleh khalifah Umar bin Khathab رضي الله عنه dan diperintahkan kepada kaum muslimin untuk memboikotnya, karena selalu mempertanyakan perkara yang tidak perlu dipertanyakan. (Lihat Aqidatus Salaf Ash-Habul Hadits, Imam ash-Shabuni, hal. 237-238)</p>
<p><strong>2)</strong> Yakni dia hanya mau menerima dalil dari al-Qur&#8217;an dan tidak mau menerima dalil dari hadits.</p>
<p>Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 73/Th. II 	29  Jumadi tsani 1426 H/5 Agustus  2005 M</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fadealam.890m.com%2F2009%2F11%2F22%2Fsikap-seorang-muslim-terhadap-hadits-4.html&amp;linkname=Sikap%20Seorang%20Muslim%20Terhadap%20HADITS"><img src="http://adealam.890m.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.890m.com/2009/11/22/sikap-seorang-muslim-terhadap-hadits-4.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudariku&#8230; Bagaimana kalian bebusana.?</title>
		<link>http://adealam.890m.com/2009/11/22/saudariku-bagaimana-kalian-bebusana.html</link>
		<comments>http://adealam.890m.com/2009/11/22/saudariku-bagaimana-kalian-bebusana.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 12:17:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[akhwat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.890m.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Wahai saudariku perbaikilah busana/pakaian kalian&#8230;
apakah pakaian kalian sudah benar menurut syari&#8217;at Islam?
ketahuilah saudariku&#8230;
bahwa fitnah kalian itu jauh lebih besar dari fitnah apapun didunia ini bagi kaum pria&#8230;
dan diantara fitnah kalian terhadap kaum pria adalah keluarnya kalian dari rumah-rumah kalin, padahal hukum asalnya kalian adalah di rumah.
Allah Subhanahu wata&#8217;ala berfirman :
dan hendaklah kamu tetap di rumahmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wahai saudariku perbaikilah busana/pakaian kalian&#8230;<br />
apakah pakaian kalian sudah benar menurut syari&#8217;at Islam?</p>
<p>ketahuilah saudariku&#8230;<br />
bahwa fitnah kalian itu jauh lebih besar dari fitnah apapun didunia ini bagi kaum pria&#8230;<br />
dan diantara fitnah kalian terhadap kaum pria adalah keluarnya kalian dari rumah-rumah kalin, padahal hukum asalnya kalian adalah di rumah.<br />
Allah <em>Subhanahu wata&#8217;ala</em> berfirman :</p>
<p><em>dan hendaklah kamu tetap di rumahmu</em> (Al-Ahzab. 33)</p>
<p>Namun kalian di ijinkan keluar rumah untuk keperluan-keperluan yang maslahat itupun dengan syarat-syarat yang telah dijelaskan oleh Allah <em>Subhanahu wata&#8217;ala</em> dalam Al-Qur&#8217;an dan oleh Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam </em> dalam As-Sunnah.<br />
dalam kalimat selanjutnya Allah <em>Subhanahu wata&#8217;ala </em> berfirman :</p>
<p><em> dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu</em> (Al-Ahzab . 33)</p>
<p>Jadi saudariku&#8230;<br />
tolong perhatikan apakah keluarnya kalain dari rumah bisa mnyebabkan fitnah bagi kaum pria atau tidak?<br />
<span id="more-139"></span><br />
Allah telah berjanji kepada kalian, jika kalian keluar rumah dengan melaksanakan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Allah dan Rosul-Nya, kalian tidak akan diganggu oleh pria-pria hidung belang,<br />
Allah <em> Subhanahu wata&#8217;ala </em> berfirman dalam ayat masalah jilbab :<br />
<em>Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em> (Al-Ahzab . 59)</p>
<p>Namun jika saudariku sudah memakai busana yang menurut kalian sesuai syar&#8217;i, apakah kalian sudah tidak diganggu lagi?<br />
jika masih diganggu, apa yang salah?<br />
apakah Allah tidak menepati janji-Nya? (mustahil bagi Allah untuk tidak menepati janji),<br />
kalau begitu apa&#8230;?<br />
apakah busana kalian sesuai dengan yang disyari&#8217;atkan oleh Allah dan Rasul-Nya?</p>
<p>Sebenarnya bagaimana busana wanita muslimah yang sesuai dengan syar&#8217;i?<br />
berikut uraianya:</p>
<p>Jilbab yang sesuai dengan syariah apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :</p>
<p><strong>Menutupi seluruh badan</p>
<p>Tidak diberi hiasan-hiasan hingga mengundang pria untuk melihatnya </strong></p>
<p>Allah <em>Subhanahu Wata&#8217;ala</em> berfirman :<br />
<em>“Katakanlah (ya Muhammad) kepada wanita-wanita yang beriman: hendaklah mereka menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluan mereka, dan jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa nampak darinya. Hendaklah mereka meletakkan dan menjulurkan kerudung di atas kerah baju mereka (dada-dada mereka)… </em> (An-Nuur: 31)</p>
<p><strong>Tebal tidak tipis </strong><br />
Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> bersabda :<br />
<em>“Akan ada nanti di kalangan akhir umatku para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya mereka telanjang… </em></p>
<p>Kemudian beliau  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> bersabda:<br />
<em>“…laknatlah mereka karena sesungguhnya mereka itu terlaknat”.</em> (HR. Ath Thabrani dalam Al Mu`jamush Shaghir dengan sanad yang shahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Albani dalam kitab beliau Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 125)<br />
dalam sabdanya <em>Shallallahi &#8216;alaihi wasalam</em> (di atas) Kata Ibnu Abdil Baar <em>Rahimahullah</em> : <em>“Yang dimaksud Nabi adalah para wanita yang mengenakan pakaian dari bahan yang tipis yang menerawangkan bentuk badan dan tidak menutupinya maka wanita seperti ini istilahnya saja mereka berpakaian tapi hakikatnya mereka telanjang”</em>.</p>
<p><strong>Lebar tidak sempit </strong><br />
Usamah bin Zaid <em>Rodhiallahu &#8216;anhuma</em> berkata: Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> memakaikan aku pakaian Qibthiyah yang tebal yang dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau maka aku memakaikan pakaian itu kepada istriku. Suatu ketika beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> bertanya: <em>“Mengapa engkau tidak memakai pakaian Qibthiyah itu?</em> Aku menjawab: <em>“Aku berikan kepada istriku”</em>. Beliau berkata : <em>“Perintahkan istrimu agar ia memakai kain penutup setelah memakai pakaian tersebut karena aku khawatir pakaian itu akan menggambarkan bentuk tubuhnya”</em>. (Diriwayatkan oleh Adl Dliya Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan, kata Syaikh Al-Albani <em>Rahimahullalh</em> dalam Jilbab, hal. 131)</p>
<p><strong>Tidak diberi wangi-wangian </strong><br />
Karena Rasulullah <em>Shallallhu &#8216;alaihi wasalam</em> bersabda :<br />
<em>“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian lalu ia melewati sekelompok orang agar mereka mencium wanginya maka wanita itu pezina.”</em> (HR. An Nasai, Abu Daud dan lainnya, dengan isnad hasan kata Syaikh Al-Albani dalam Jilbab, hal. 137)</p>
<p><strong>Tidak menyerupai pakaian laki-laki </strong><br />
Abu Hurairah <em>Radhiallahu &#8216;anhu</em> mengatakan: “Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki”. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Jilbab, hal. 141)</p>
<p><strong>Tidak menyerupai pakaian wanita kafir </strong><br />
Karena Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> dalam banyak sabdanya memerintahkan kita untuk menyelisihi orang-orang kafir dan tidak menyerupai mereka baik dalam hal ibadah, hari raya/perayaan ataupun pakaian khas mereka. Lihat kembali dalam catatan saya yang berjudul <a title="http://adealam.890m.com/2009/11/18/tasyabbuh-bahaya-laten-umat-islam.html" href="http://adealam.890m.com/2009/11/18/tasyabbuh-bahaya-laten-umat-islam.html">Tasyabbuh Bahaya Laten Umat Islam</a></p>
<p><strong>Bukan merupakan pakaian untuk ketenaran</strong><br />
Yakni pakaian yang dikenakan dengan tujuan agar terkenal di kalangan manusia, sama saja apakah pakaian itu mahal/ mewah dengan maksud untuk menyombongkan diri di dunia atau pakaian yang jelek yang dikenakan dengan maksud untuk menampakkan kezuhudan dan riya.</p>
<p>Berkata Ibnul Atsir: Pakaian yang dikenakan itu masyhur di kalangan manusia karena warnanya berbeda dengan warna-warna pakaian mereka hingga manusia mengangkat pandangan ke arahnya jadilah orang tadi merasa bangga diri dan sombong. Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasalam</em> bersabda:<br />
<em>“Siapa yang memakai pakaian untuk ketenaran di dunia maka Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan pada hari kiamat kemudian dinyalakan api padanya”.</em> (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dengan isnad hasan kata Syaikh Albani dalam Jilbab, hal. 213)</p>
<p>Sumber : <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;caf5938be80b64d43a0729767cb6cb4e&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.asysyariah.com/" target="_blank">http://www.asysyariah.com</a><br />
dengan judul asli  <strong>JILBAB YANG SESUAI DENGAN SYARIAT</strong></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fadealam.890m.com%2F2009%2F11%2F22%2Fsaudariku-bagaimana-kalian-bebusana.html&amp;linkname=Saudariku%26%238230%3B%20Bagaimana%20kalian%20bebusana.%3F"><img src="http://adealam.890m.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.890m.com/2009/11/22/saudariku-bagaimana-kalian-bebusana.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 Alasan Untuk Tidak Memakai Jilbab</title>
		<link>http://adealam.890m.com/2009/11/22/10-alasan-untuk-tidak-memakai-jilbab.html</link>
		<comments>http://adealam.890m.com/2009/11/22/10-alasan-untuk-tidak-memakai-jilbab.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 11:54:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[akhwat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.890m.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Bila anda seorang muslimah dewasa dan masih belum menutup auratnya dengan hijab dan jilbab yang benar, maka ada baiknya merenungkan kembali alasan anda dengan menyimak dialog pemikiran dbawah ini.

ALASAN I : Saya belum benar-benar yakin akan fungsi/kegunaan jilbab
Kami kemudian menanyakan dua pertanyaan kepada saudari ini; Pertama, apakah ia benar-benar percaya dan mengakui kebenaran agama Islam? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bila anda seorang muslimah dewasa dan masih belum menutup auratnya dengan hijab dan jilbab yang benar, maka ada baiknya merenungkan kembali alasan anda dengan menyimak dialog pemikiran dbawah ini.</em><br />
<span id="more-134"></span><br />
<strong>ALASAN I</strong> : Saya belum benar-benar yakin akan fungsi/kegunaan jilbab</p>
<p>Kami kemudian menanyakan dua pertanyaan kepada saudari ini; Pertama, apakah ia benar-benar percaya dan mengakui kebenaran agama Islam? Dengan alami ia berkata, Ya, sambil kemudian mengucap Laa Ilaa ha Illallah! Yang menunjukkan ia taat pada aqidahnya dan Muhammadan rasullullah! Yang menyatakan ia taat pada syariahnya. Dengan begitu ia yakin akan Islam beserta seluruh hukumnya. Kedua, kami menanyakan; Bukankah memakai jilbab termasuk hukum dalam Islam? Apabila saudari ini jujur dan dan tulus dalam ke-Islamannya, ia akan berkata; Ya, itu adalah sebagian dari hukum Islam yang tertera di Al-Quran suci dan merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang suci. Jadi kesimpulannya disini, apabila saudari ini percaya akan Islam dan meyakininya, mengapa ia tidak melaksanakan hukum dan perintahnya?</p>
<p><strong>ALASAN II</strong> : Saya yakin akan pentingnya jilbab namun Ibu saya melarangnya, dan apabila saya melanggar ibu, saya akan masuk neraka.</p>
<p>Yang telah menjawab hal ini adalah ciptaan Allah Azza wa Jalla termulia, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam nasihatnya yang sangat bijaksana;<em> “Tiada kepatuhan kepada suatu ciptaan diatas kepatuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”</em> (HR Ahmad). Sesungguhnya, status orangtua dalam Islam, menempati posisi yang sangat tinggi dan terhormat. Dalam sebuah ayat disebutkan; <em>“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang Ibu Bapak . . “</em> (QS. An-Nisa:36). Kepatuhan terhadap orangtua tidak terbatas kecuali dalam satu aspek, yaitu apabila berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman;<em> “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya&#8221;</em>…(QS. Luqman : 15)</p>
<p>Berbuat tidak patuh terhadap orangtua dalam menjalani perintah AllahSubhanahu wa Ta’alatidak menyebabkan kita dapat berbuat seenaknya terhadap mereka. Kita tetap harus hormat dan menyayangi mereka sepenuhnya. Allah berfirman di ayat yang sama; “dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Kesimpulannya, bagaimana mungkin kamu mematuhi ibumu namun melanggar Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan kamu dan ibumu.</p>
<p><strong>ALASAN III</strong> : Posisi dan lingkungan saya tidak membolehkan saya memakai jilbab.</p>
<p>Saudari ini mungkin satu diantara dua tipe: dia tulus dan jujur, atau sebaliknya, ia seorang yang membohongi dirinya sendiri dengan mengatasnamakan lingkungan pekerjaannya untuk tidak memakai jilbab. Kita akan memulai dengan menjawab tipe dia adalah wanita yang tulus dan jujur.<em> “Apakah anda tidak tidak menyadari saudariku tersayang, bahwa wanita muslim tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah tanpa menutupi auratnya dengan hijab dan adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahuinya? Apabila engkau, saudariku, menghabiskan banyak waktu dan tenagamu untuk melakukan dan mempelajari berbagai macam hal di dunia ini, bagaimana mungkin engkau dapat sedemikian cerobohnya untuk tidak mempelajari hal-hal yang akan menyelamatkanmu dari kemarahan Allah dan kematianmu?”</em> Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman; <em>“maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui&#8221;</em> (QS An-Nahl : 43).Belajarlah untuk mengetahui hikmah menutup auratmu. Apabila kau harus keluar rumahmu, tutupilah auratmu dengan jilbab, carilah kesenangan Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada kesenangan syetan. Karena kejahatan dapat berawal dari pemandangan yang memabukkan dari seorang wanita.</p>
<p>Saudariku tersayang, apabila kau benar-benar jujur dan tulus dalam menjalani sesuatu dan berusaha, kau akan menemukan ribuan tangan kebaikan siap membantumu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat segala permasalahan mudah untukmu. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’alatelah berfirman; <em>“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya..”</em> (QS. AtTalaq :2-3). Kedudukan dan kehormatan adalah sesuatu yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tidak bergantung pada kemewahan pakaian yang kita kenakan, warna yang mencolok, dan mengikuti trend yang sedang berlaku. Kehormatan dan kedudukan lebih kepada bersikap patuh pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan bergantung pada hukum Allah yang murni. Dengarkanlah kalimat Allah; <em> “sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu..”</em><span> (QS. Al-Hujurat:13).Kesimpulann</span></p>
<div>ya, lakukanlah sesuatu dengan mencari kesenangan dan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan berikan harga yang sedikit pada benda-benda mahal yang dapat menjerumuskanmu.</p>
<p><strong>ALASAN IV</strong> : Udara di daerah saya amatlah panas dan saya tidak dapat menahannya. Bagaimana mungkin saya dapat mengatasinya apalagi jika saya memakai jilbab.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan perumpamaan dengan mengatakan; <em>“api neraka jahannam itu lebih lebih sangat panas(nya) jikalau mereka mengetahui..” </em>(QS At-Taubah : 81). Bagaimana mungkin kamu dapat membandingkan panas di daerahmu dengan panas di neraka jahannam? Sesungguhnya saudariku, syetan telah mencoba membuat tali besar untuk menarikmu dari panasnya bumi ini kedalam panasnya suasana neraka. Bebaskan dirimu dari jeratannya dan cobalah untuk melihat panasnya matahari sebagai anugerah, bukan kesengsaraan. Apalagi mengingat bahwa intensitas hukuman dari Allah akan jauh lebih berat dari apa yang kau rasakan sekarang di dunia fana ini. Kembalilah pada hukum Allah dan berlindunglah dari hukuman-Nya, sebagaimana tercantum dalam ayat; <em>“mereka tidak merasakan kesejukan didalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah”</em> (QS. AN-NABA 78:24-25). Kesimpulannya, surga yang Allah janjikan, penuh dengan cobaan dan ujian. Sementara jalan menuju neraka penuh dengan kesenangan, nafsu dan kenikmatan.</p>
<p><strong>ALASAN V</strong> : Saya takut, bila saya memakai jilbab sekarang, di lain hari saya akan melepasnya kembali, karena saya melihat banyak sekali orang yang begitu.</p>
<p>Kepada saudari itu saya berkata, “apabila semua orang mengaplikasikan logika anda tersebut, mereka akan meninggalkan seluruh kewajibannya pada akhirnya nanti! Mereka akan meninggalkan shalat lima waktu karena mereka takut tidak dapat melaksanakan satu saja waktu shalat itu. Mereka akan meninggalkan puasa di bulan ramadhan, karena mereka takut tidak dapat menunaikan satu hari ramadhan saja di bulan puasa, dan seterusnya. Tidakkah kamu melihat bagaimana syetan telah menjebakmu lagi dan memblokade petunjuk bagimu? Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai ketaatan yang berkesinambungan walaupun hanya suatu ketaatan yang sangat kecil atau dianjurkan. Lalu bagaimana dengan sesuatu yang benar-benar diwajibkan sebagaimana kewajiban memakai jilbab? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda; <em>“Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan mulia yang terus menerus, yang mungkin orang lain anggap kecil.”</em> Mengapa kamu saudariku, tidak melihat alasan mereka yang dibuat-buat untuk menanggalkan kembali jilbab mereka dan menjauhi mereka? Mengapa tidak kau buka tabir kebenaran dan berpegang teguh padanya? Allah Subhanahu wa Ta’ala sesungguhnya telah berfirman; <em>“maka kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang di masa kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”</em> (QS. AL BAQARAH 2:66). Kesimpulannya, apabila kau memang teguh petunjuk dan merasakan manisnya keimanan, kau tidak akan meninggalkan sekali pun perintah Allah setelah kau melaksanakannya.</p>
<p><strong>ALASAN VI</strong> : Apabila saya memakai jilbab, maka jodohku akan sulit, jadi aku akan memakainya nanti setelah menikah.</p>
<p>Saudariku, suami mana pun yang lebih menyukaimu tidak memakai jilbab dan membiarkan auratmu di depan umum, berarti dia tidak mengindahkan hukum dan perintah Allah dan bukanlah suami yang berharga sejak semula. Dia adalah suami yang tidak memiliki perasaan untuk melindungi dan menjaga perintah Allah , dan jangan pernah berharap tipe suami seperti ini akan menolongmu menjauhi api neraka, apalagi memasuki surga Allah . Sebuah rumah yang dipenuhi dengan ketidak-taatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan selalu menghadapi kepedihan dan kemalangan di dunia kini dan bahkan di akhirat nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; <em>“dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”</em> (QS. TAHA 20:124). Pernikahan adalah sebuah pertolongan dan keberkahan dari Allah kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Berapa banyak wanita yang ternyata menikah sementara mereka yang tidak memakai jilbab tidak?</p>
<p>Apabila kau, saudariku tersayang, mengatakan bahwa ketidak-tertutupanmu kini adalah suatu jalan menuju sesuatu yang murni, asli, yaitu pernikahan. Tidak ada ketertutupan. Saudariku, suatu tujuan yang murni, tidak akan tercapai melalui jalan yang tidak murni dan kotor dalam Islam. Apabila tujuannya bersih dan murni, serta terhormat, maka jalan menuju kesana pastilah harus dicapai dengan bersih dan murni pula. Dalam syariat Islam kita menyebutnya : Alat atau jalan untuk mencapai sesuatu, tergantung dari peraturan yang ada untuk mencapai tujuan tersebut. Kesimpulannya, tidak ada keberkahan dari suatu perkawinan yang didasari oleh dosa dan kebodohan.</p>
<p><strong>ALASAN VII</strong> : Saya tidak memakai jilbab berdasarkan perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala : <em>“dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”</em> (QS.Ad-Dhuhaa 93: 11). Bagaimana mungkin saya menutupi anugerah Allah berupa kulit mulus dan rambutku yang indah?</p>
<p>Jadi saudari kita ini mengacu pada Kitab Allah selama itu mendukung kepentingannya dan pemahamannya sendiri ! ia meninggalkan tafsir sesungguhnya dibelakang ayat itu apabila hal itu tidak menyenangkannya. Apabila yang saya katakan ini salah, mengapa saudari kita ini tidak mengikuti ayat : <em>“janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang nampak daripadanya”</em> (QS An-Nur 24: 31) dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: <em>“katakanlah kepada istri-istrimu,<br />
anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya..”</em> (QS Al-Ahzab 33:59). Dengan pernyataan darimu itu, saudariku, engkau telah membuat syariah sendiri bagi dirimu, yang sesungguhnya telah dilarang oleh Allah, yang disebut at-tabarruj dan as-sufoor. Berkah terbesar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita adalah iman dan hidayah, yang diantaranya adalah menggunakan hijab. Mengapa kamu tidak mempelajari dan menelaah anugerah terbesar bagimu ini? Kesimpulannya, apakah ada anugerah dan pertolongan terhadap wanita yang lebih besar daripada petunjuk dan hijab?</p>
<p><strong>ALASAN VIII</strong> : Saya tahu bahwa jilbab adalah kewajiban, tapi saya akan memakainya bila saya sudah merasa terpanggil dan diberi petunjuk oleh-Nya.</p>
<p>Saya bertanya kepada saudariku ini, rencana atau langkah apa yang ia lakukan selama menunggu hidayah, petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti yang dia katakan? Kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kalimat-kalimat bijak-Nya menciptakan sebab atau cara untuk segala sesuatu. Itulah mengapa orang yang sakit menelan sebutir obat untuk menjadi sehat, dan sebagainya. Apakah saudariku ini telah dengan seluruh keseriusan dan usahanya mencari petunjuk sesungguhnya dengan segala ketulusannya, berdoa, sebagaimana dalam surah Al-Fatihah 1:6 <em>“Tunjukilah kami jalan yang lurus”</em> serta berkumpul mencari pengetahuan kepada muslimah-muslimah lain yang lebih taat dan yang menurutnya telah diberi petunjuk dengan menggunakan jilbab? Kesimpulannya, apabila saudariku ini benar-benar serius dalam mencari atau pun menunggu petunjuk dari Allah , dia pastilah akan melakukan jalan-jalan menuju pencariannya itu.</p>
<p><strong>ALASAN IX</strong> : Belum waktunya bagi saya. Saya masih terlalu muda untuk memakainya. Saya pasti akan memakainya nanti seiring dengan penambahan umur dan setelah saya pergi haji.</p>
<p>Malaikat kematian, saudariku, mengunjungi dan menunggu di pintumu kapan saja Allah berkehendak. Sayangnya, saudariku, kematian tidak mendiskriminasi antara tua dan muda dan ia mungkin saja datang disaat kau masih dalam keadaan penuh dosa dan ketidaksiapan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersabda; <em>“tiap umat mepunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya”</em> (QS Al-An’aam 7:34] saudariku tersayang, kau harus berlomba-lomba dalam kepatuhan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, <em>“berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumu..”</em> (QS Al-Hadid 57:21).</p>
<p>Saudariku, jangan melupakan Allah atau Ia akan melupakanmu di dunia ini dan selanjutnya. Kau melupakan jiwamu sendiri dengan tidak memenuhi hak jiwamu untuk mematuhi-Nya. Allah mengatakan tentang orang-orang yang munafik, <em>“dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri”</em> (QS Al-Hashr 59: 19) saudariku, memakai jilbab di usiamu yang muda, akan memudahkanmu. Karena Allah akan menanyakanmu akan waktu yang kau habiskan semasa mudamu, dan setiap waktu dalam hidupmu di hari pembalasan nanti.Kesimpulannya, berhentilah menetapkan kegiatanmu dimasa datang, karena tidak seorang pun yang dapat menjamin kehidupannya hingga esok hari.</p>
<p><strong>ALASAN X</strong> : Saya takut, bila saya memakai jilbab, saya akan di-cap dan digolongkan dalam kelompok tertentu! Saya benci pengelompokan!</p>
<p>Saudariku, hanya ada dua kelompok dalam Islam. Dan keduanya disebutkan dalam Kitabullah. Kelompok pertama adalah kelompok / tentara Allah (Hizbullah) yang diberikan pada mereka kemenangan, karena kepatuhan mereka. Dan kelompok kedua adalah kelompok syetan yang terkutuk (hizbush-shaitan) yang selalu melanggar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila kau, saudariku, memegang teguh perintah Allah, dan ternyata disekelilingmu adalah saudara-saudaramu yang memakai jilbab, kau tetap akan dimasukkan dalam kelompok Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun apabila kau memperindah nafsu dan egomu, kau akan mengendarai kendaraan Syetan, seburuk-buruknya teman.</p>
<p>Saudariku,</p>
<p>Jangan biarkan tubuhmu dipertontonkan di pasar para syetan dan merayu hati para pria. Model rambut, pakaian ketat yang mempertontonkan setiap detail tubuhmu, pakaian-pakaian pendek yang menunjukkan keindahan kakimu, dan semua yang dapat membangkitkan amarah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyenangkan syetan. Setiap waktumu yang kau habiskan dalam kondisi ini, akan terus semakin menjauhkanmu dari Allah dan semakin membawamu lebih dekat pada syetan. Setiap waktu kutukan dan kemarahan menuju kepadamu dari surga hingga kau bertaubat. Setiap hari membawamu semakin dekat kepada kematian. <em>“tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain dari kesenangan yang memperdayakan”</em> (QS Ali ‘Imran 3:185). Naikilah kereta untuk mengejar ketinggalan, saudariku, sebelum kereta itu melewati stasiunmu. Renungkan secara mendalam, saudariku, apa yang terjadi hari ini sebelum esok datang. Pikirkan tentang hal ini, saudariku, sekarang, sebelum semuanya terlambat !</div>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fadealam.890m.com%2F2009%2F11%2F22%2F10-alasan-untuk-tidak-memakai-jilbab.html&amp;linkname=10%20Alasan%20Untuk%20Tidak%20Memakai%20Jilbab"><img src="http://adealam.890m.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.890m.com/2009/11/22/10-alasan-untuk-tidak-memakai-jilbab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tugas Muslimah</title>
		<link>http://adealam.890m.com/2009/11/22/tugas-muslimah.html</link>
		<comments>http://adealam.890m.com/2009/11/22/tugas-muslimah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 11:45:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adealam.890m.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi ibu rumah tangga atau bergelutnya wanita dalam lingkup domestik merupakan kemunduran adalah sekelumit citra yang kuat tertanam sebagai buah dari propaganda emansipasi. Dengan ini, para wanita pun terpacu untuk mengejar karir meski hanya untuk meraih simbol status. Padahal tanpa disadari, banyak hal yang mereka pertaruhkan di sini.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Peribahasa ini sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi ibu rumah tangga atau bergelutnya wanita dalam lingkup domestik merupakan kemunduran adalah sekelumit citra yang kuat tertanam sebagai buah dari propaganda emansipasi. Dengan ini, para wanita pun terpacu untuk mengejar karir meski hanya untuk meraih simbol status. Padahal tanpa disadari, banyak hal yang mereka pertaruhkan di sini.</p>
<p>Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Peribahasa ini sangat tepat untuk menggambarkan keadaan kaum wanita di era kiwari. Ini terkait perjuangan emansipasi yang menghendaki kebebasan kaum wanita manggung di ruang publik. Betapa tidak. Kala gerakan emansipasi ini menggerus feodalisme yang mengungkung kaum wanita, dan menyuarakan kebebasan untuk berkarir, pada saat itu kaum wanita terpelanting pada arus budaya kapitalisme. Wanita menjadi komoditas, barang dagangan utama. Wanita dieksploitasi para pemilik modal (kapitalis).1 Suara kebebasan yag didengungkan hanya mengantarkan kaum wanita menjadi mesin-mesin ekonomi. Harkat, martabat, dan kemuliaan yang dicitakan cuma sebatas angan. Malang nian nasib kaum wanita. Lepas dari mulut buaya, masuk mulut harimau. Emansipasi tak mampu mengangkatnya dari titik nadir keterpurukan.<br />
<span id="more-130"></span><br />
Masih berkutat di ruang publik. Angin kebebasan bagi kaum wanita berembus pula ke kubangan politik. Wanita berpacu memperebutkan kursi. Entah kursi eksekutif atau legislatif. Kaum wanita pun sudah tak sungkan dan malu lagi untuk turun ke jalan. Mereka demonstrasi mengikuti arus kebebasan. Walau untuk itu, mereka harus menggendong anaknya, berbaur dengan lawan jenis, mendedahkan aurat berteriak di jalanan dan keluar rumah dengan keperluan yang tak dilandasi syar’i.</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu pernah ditanya terkait aktivitas kaum Hawa di luar rumah. Beliau rahimahullahu menuturkan bahwa pokok masalah (hukum asal) pembicaraan tentang wanita ini berdasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala terkait individu para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُولَى</p>
<p>“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33)</p>
<p>Lantas beliau rahimahullahu mengutip pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu: “Sesungguhnya, hukum asal bagi laki-laki (adalah) pergi dan keluar (dari rumah). Sedangkan bagi wanita (adalah) tetap tinggal di rumah, tidak keluar, kecuali jika ada keperluan yang mengharuskan dia keluar rumah.”</p>
<p>Lebih lanjut, beliau rahimahullahu menuturkan bahwa dalam Shahih Al-Bukhari, tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan hijab kepada kaum wanita, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>قَدْ أَذِنَ اللهُ لَكُنَّ أَنْ تَخْرُجْنَ لِحَوَائِجِكُنَّ</p>
<p>“Allah telah mengizinkan bagi kalian (para wanita) untuk keluar (rumah) tatkala kalian memiliki keperluan.”2</p>
<p>Maka, bila seorang wanita keluar dari rumahnya dengan memakai jilbabnya, tidak memakai parfum (wewangian), lantaran ada keperluan, maka yang demikian diperbolehkan. Apabila dia keluar rumah diiringi pelanggaran terhadap hal-hal yang kami isyaratkan tadi (seperti tidak menutup aurat atau mengenakan wewangian, pen.) atau mengganggu sebagian kewajiban di rumahnya, maka berlakulah ayat Al-Qur`an:</p>
<p>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ</p>
<p>“Dan hendaklah kamu tetap di rumah-rumahmu.”</p>
<p>Tidak boleh bagi seorang wanita keluar (rumah) dan meninggalkan anak-anaknya bersama pembantu. Karena, seorang ibu lebih mengetahui apa saja kebutuhan yang diminta anak-anaknya. Dia pun mengetahui kebaikan apa saja bagi anak-anaknya berkenaan dengan arahan dan pendidikan. (Masa`il Nisa`iyyah Mukhtarah min Fiqhi Al-’Allamah Al-Albani rahimahullahu, Ummu Ayyub Nurah bintu Ahsan Ghawi, hal. 79)</p>
<p>Demikian Islam membimbing kaum wanita. Namun bagi kalangan pegiat emansipasi, bimbingan semacam ini dianggap sebagai tindak mengekang kebebasan wanita. Mereka, dengan gelap mata, menuduh bahwa kaum wanita cuma diposisikan untuk urusan domestik: kasur, pupur, dapur. Atau istilah lain: macak, masak, manak3. Dengan segala latar belakang sejarah dan pemikiran gerakan emansipasi yang bertolak belakang dengan Islam, maka bagi kalangan pegiat emansipasi melihat Islam dari sudut negatif. Karena benak mereka telah dirasuki sejarah dan pemikiran emansipasi tersebut, mereka mendekati Islam dengan dasar curiga. Sehingga, mereka melihat apa yang telah diatur dalam Islam sebagai bentuk penistaan terhadap kaum wanita. Mereka melihat kemajuan dan kemuliaan wanita adalah manakala telah mampu melampaui atau sama dengan yang dicapai kaum pria. Kemajuan dan kemuliaan wanita identik dengan jabatan, gelar, atau status sosial yang dicapai. Hal-hal yang bersifat keakhiratan, keshalihan, ketaatan dan keimanan dianggap sebagai angin lalu.</p>
<p>Dengan corak pemikiran semacam itu, yang tidak bertumpu pada nilai-nilai Islam yang benar, maka keberadaan kaum wanita yang memainkan peran domestiknya dianggap sebagai kemunduran. Tak terbetik dalam diri mereka nilai keutamaan seorang wanita yang sabar dalam menghadapi kesulitan mengurusi rumah tangga. Tak terbetik pula dalam diri mereka, keutamaan seseorang yang tetap mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dzikir kala sulit melilit rumah tangganya.</p>
<p>Dikisahkan dari hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Fathimah radhiyallahu ‘anha mengeluhkan tangannya akibat penggilingan (yang digerakkan tangannya). Sedangkan pada saat itu terbetik berita bahwa didatangkan tawanan perang (budak) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, bertolaklah Fathimah untuk menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dengan maksud bisa meminta budak untuk dijadikan pembantu di rumahnya). Namun, ternyata dia tak bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bertemu Aisyah radhiyallahu ‘anha. Diungkapkanlah apa yang menjadi keinginan hatinya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Maka, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan tentang hal itu kepada beliau. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka berdua. Saat ditemui, mereka berdua tengah berbaring di tempat tidur. “Tetaplah kalian di tempat,” kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau duduk di antara keduanya (Ali dan Fathimah radhiyallahu ‘anhuma). Kata Ali, “Hingga aku rasakan dinginnya kedua kaki beliau di perutku.” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>أَلَا أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَا؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا أَنْ تُكَبِّرَا اللهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِيْنَ وَتُسَبِّحَاهُ ثَلَاثَةً وَثَلَاثِيْنَ وَتَحْمَدَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ</p>
<p>“Maukah aku ajari kalian berdua tentang sesuatu yang lebih baik dari (pembantu) yang kalian berdua minta? Apabila kalian berdua telah mendapati tempat pembaringan (menjelang tidur), hendaknya bertakbir (mengagungkan-Nya) 34 kali, bertasbih (menyucikan-Nya) 33 kali, dan bertahmid (memuji-Nya) 33 kali. Maka, itu (semua) lebih baik daripada seorang pembantu.” (HR. Al-Bukhari, Bab ‘Amalil Mar`ah fi Baiti Zaujiha, no. 5361, dan Bab Khadimul Mar`ah, no. 5362; Muslim, Bab At-Tasbih Awwalan Nahar wa ‘indan Naum, no. 2727)</p>
<p>Berkenaan hadits di atas, Al-Imam Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullahu menjelaskan, bahwa dengan membiasakan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya akan diberikan kekuatan yang lebih besar dibanding kekuatan yang mampu dikerjakan oleh seorang pembantu. Atau (dengan membiasakan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) akan mempermudah urusan. Sekiranya terjadi seseorang diberi beragam urusan, dengan (dzikir) itu akan lebih memudahkan dibanding diberi seorang pembantu kepadanya. Yang jelas, kandungan hadits di atas memiliki maksud betapa manfaat tasbih (menyucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala) dikhususkan terhadap kampung akhirat, sedangkan manfaat adanya pembantu khusus menggapai (apa yang ada) di dunia saja. Padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal adanya. (Fathul Bari, Bab ‘Amalil Mar`ah fi Baiti Zaujiha, penjelasan hadits no. 5361, 9/484)</p>
<p>Begitulah solusi yang dibangun melalui pendekatan keimanan dan keshalihan.</p>
<p>Kisah Fathimah radhiyallahu ‘anha semoga bisa memberi secercah cahaya bagi mata hati nan gulita. Sepenggal kisah tersebut semoga pula bisa meneduhkan kalbu yang galau menatap kilau dunia. Beragam kesulitan yang silih berganti tiada henti, yang menerpa para wanita di kala mengurusi rumah tangganya, ternyata memendam untaian pahala tiada ternilai. Ketika tugas-tugas domestik itu bisa ditunaikan dengan penuh kesabaran, ikhlas semata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka urusan-urusan rumah yang digelutinya menjadi ladang kebaikan. Ia akan senantiasa mereguk pahala kebaikan yang tercurah padanya. Maka, keutamaan mana lagi yang harus dia kejar?</p>
<p>Tentu, bagi kalangan feminis –aktivis perempuan yang getol menyuarakan kebebasan– hal-hal keshalihan, ketaatan, keimanan, dan kesabaran dalam menggarap ladang kebaikan di rumah tak akan menggiurkannya. Jangankan tergiur, untuk menoleh sesaat saja dada terasa menyempit. Sesak terasa. Rumah baginya adalah penjara yang membelenggu kebebasannya untuk berkiprah di luar rumah. Ingatlah, bahwa akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى</p>
<p>“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la: 17)</p>
<p>وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ اْلأُولَى</p>
<p>“Dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu dari permulaan (dunia).” (Adh-Dhuha: 4)</p>
<p>Menurut Ibnu Katsir rahimahullahu, maksud ayat ini, bahwa kehidupan akhirat lebih baik bagimu dari (kehidupan) di dunia ini. (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 7/395)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan tentang kehidupan dunia. Berdasar hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar. Tatkala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun, nampak bekas tikar di bagian rusuknya. Lantas kami katakan kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah, (bagaimana) seandainya (tempat tidurmu) kami lapisi lembaran yang lebih baik?’ Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا</p>
<p>“Apa urusanku dengan dunia?! Tiadalah aku dalam (menyikapi dunia) kecuali seperti seorang pengelana yang berteduh di bawah pohon, kemudian beristirahat dan meninggalkan pohon tersebut.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2377. Hadits ini dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu)</p>
<p>Bila dicermati, semakin laju zaman, keengganan –bahkan penolakan– terhadap peran domestik ini makin menguat. Berpokok pada kejahilan umat terhadap Islam, diperparah dengan gempuran budaya materialistik kapitalistik sehingga membentuk cara berpikir yang pragmatis, simpel, praktis, dengan meninggalkan idealisme beragama. Bahkan kondisi demikian menggejala nyaris di semua lini kehidupan.</p>
<p>Tak terkecuali dengan nilai-nilai Islam. Beberapa kalangan dari kaum muslimin, khususnya mereka yang fokus terhadap emansipasi wanita, mulai bersuara sumbang. Mereka katakan, tafsir terkait masalah wanita dihasilkan dari dominasi penafsir laki-laki sehingga cenderung membela laki-laki. Terlontar pula dari mereka bahwa tafsir terkait masalah wanita dihasilkan pada abad-abad pertengahan yang merupakan abad kemunduran. Ungkapan-ungkapan yang mereka lansir adalah upaya untuk mengecoh umat dari nilai-nilai Islam. Sengaja mereka tebarkan ungkapan sejenis itu guna menjatuhkan kredibilitas para ulama. Jika umat sudah tidak lagi memercayai ulamanya, kepada siapa lagi mereka menyandarkan diri dalam masalah agama? Dari sinilah kita memahami bahwa ada rencana besar di balik ini semua, yaitu menghancurkan kaum muslimin. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari semua ini.</p>
<p>Islam tidak mengajarkan umatnya untuk taqlid buta. Namun, Islam pun mengajarkan kepada umatnya untuk menghormati para ulama. Tidak melecehkan mereka, apalagi menghilangkan kepercayaan terhadapnya. Para ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ</p>
<p>“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)</p>
<p>Al-Imam Al-Ajurri rahimahullahu dalam Akhlaqul ‘Ulama` (hal. 47), menjelaskan tentang sifat-sifat para ulama atau seorang yang alim. Beberapa pernyataan salafush shalih yang beliau nukil, seperti apa yang dinyatakan Al-Imam Al-Auza’i rahimahullahu yang berkata: “Aku telah mendengar Yahya bin Abi Katsir menyatakan, seorang alim adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan (yang) takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah orang yang wara’ (yang menjauhi maksiat dan syubuhat).”</p>
<p>Kata Masruq rahimahullahu, “Cukuplah seorang termasuk berilmu, manakala dia takut kepada Allah k. Dan cukuplah seseorang termasuk dalam kebodohan (jahil) manakala dia merasa ujub (bangga) dengan ilmunya.”</p>
<p>Atas dasar sikap takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akhlak terpuji lainnya, para ulama menyampaikan bimbingannya. Apa yang disampaikan para ulama benar-benar didasari rasa tanggung jawab yang besar. Tak cuma di hadapan umat, lebih dari itu semuanya bakal dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karenanya, sungguh tidak memiliki dasar ilmiah sama sekali, mereka yang melansir ucapan bahwa tafsir masalah wanita cenderung membela laki-laki, atau yang semakna dengan itu. Selain itu, dalam khazanah Islam telah terbentuk tradisi metodologi keilmuan yang ketat. Ini bisa dikaji secara ilmiah. Sehingga apa yang disampaikan para ulama bukan sesuatu yang asal ucap tanpa dasar pijakan yang kokoh.</p>
<p>Kebenaran itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti firman-Nya:</p>
<p>الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ</p>
<p>“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147)</p>
<p>Jalan untuk menggapai kebenaran itu pun hanya satu. Tidak ada jalan selain jalan yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karenanya, segenap manusia diseru untuk menempuh jalan yang satu tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>
<p>“Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153)</p>
<p>Ibnu Katsir rahimahullahu dalam tafsirnya menyebutkan hadits yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris satu guratan garis dengan tangannya, kemudian bersabda, ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lantas mengguratkan di sebelah kanan dan kiri garis tadi, kemudian bersabda, ‘Ini jalan-jalan, tak ada dari salah satu jalan tersebut kecuali setan menyeru kepadanya.’ Kemudian beliau membaca ayat di atas (Al-An’am: 153).”</p>
<p>Menempuh jalan –dalam memahami, meyakini dan mengamalkan agama– dengan jalan yang bukan dituntunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya tertolak.</p>
<p>وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)</p>
<p>Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:</p>
<p>مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p>“Barangsiapa mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang tidak ada padanya, maka dia tertolak.” (HR. Al-Bukhari, no. 2697, Muslim, no. 1718)</p>
<p>Untuk memalingkan muslimah dari jalan Islam, kalangan feminis (baca: para aktivis emansipasi) terus mempropagandakan ide-idenya. Bisa dilihat selembar potret kusam yang menggambarkan rekayasa penghancuran kaum muslimah di Timur Tengah. Meski apa yang terjadi di Indonesia tak kalah dahsyat tentunya. Sebut misal, Markus Fahmi, seorang Qibthi Mesir, penulis buku Wanita di Timur. Dengan lantang tanpa ragu dia menuntut lima hal:</p>
<p>(1) Singkirkan hijab (jilbab syar’i, ed.),</p>
<p>(2) Membolehkan ikhtilath (membaurkan kaum wanita dengan laki-laki),</p>
<p>(3) Nikahkan muslimah dengan laki-laki Kristen,</p>
<p>(4) Menolak poligami,</p>
<p>(5) Talak harus di depan hakim (bukan menjadi hak suami, pen.). (Mu’amaratul Mar`ah Al-Kubra, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam, 1/70-71)</p>
<p>Maka, adakah dari kelima hal di atas, yang kini merebak di Indonesia? Bandingkan dengan suara wanita Indonesia –meski tak semuanya– pada acara Kongres Perempuan Pertama di Yogyakarta: “Menoeroet hoekoem agama Islam, orang lelaki itoe boleh mempoenjai isteri lebih dari seorang, ja hingga empat orangpoen boleh djoega. Hal inilah jang menjakitkan hati kita kaoem perempoean, dan djoega merendahkan deradjatnja orang perempoean&#8230;.” (Kongres Perempuan Pertama, Tinjauan Ulang, Susan Blackburn, 1/98)</p>
<p>Seruan yang nyaris sepadan disuarakan pula oleh Ana Maria Ilyas, feminis asal Suriah, penulis Kepemimpinan atas Wanita Islam. Dia menggagas acara festival yang menjiplak mentah-mentah Festival Paris di Perancis. Festival ini menjadi ajang berbaur bebas antara pria dan wanita. Dari berbagai orang Eropa, Mesir, dan orang-orang Barat yang bermukim di Mesir, khususnya dari kalangan Kristiani, mereka berkumpul. Latar belakang mereka, selain orang-orang Eropa, juga memiliki pikiran sekularis dan Yahudi. Maka, kata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam hafizhahullah, inilah hakikat seruan kepada (kebebasan) hak-hak wanita. Mungkinkah bisa terjadi seruan terhadap (kebebasan) hak-hak wanita tersebut tanpa menerima kelompok orang-orang berdosa dan menyimpang itu? (Tentunya, tidak mungkin). Bahkan, mereka adalah sumber dan tempat merujuk. Perhatikanlah, bagaimana (lantaran menyuarakan hak-hak wanita) mereka bergelimang pada perkara-perkara kekufuran, dan saling mengasihi serta melindungi! La haula wala quwwata illa billah. (Mu’amarah Al-Kubra, 1/71)</p>
<p>Tersebut juga nama Duriyah Syafiq. Sekembali dari studi di Perancis dengan menggondol gelar doktor, ia mendirikan partai politik. Dengan lantang dia menyuarakan kebebasan kaum wanita untuk dipilih dan masuk parlemen, menghapuskan poligami, serta memasukkan sistem perundangan Eropa dalam masalah talak ke dalam undang-undang Mesir. (Mu’amarah Al-Kubra, 1/72)</p>
<p>Bandingkan dengan fenomena yang terjadi di Indonesia. Perjuangan kaum wanita untuk mendapatkan kuota dalam pemilihan anggota legislatif semakin menganga. Kini, syarat sebuah partai politik berdiri, harus menyertakan keterwakilan perempuan paling rendah 30%.</p>
<p>Mestikah kemajuan materi yang digapai kini hanya akan mengeraskan hati manusia? Sehingga, dengan itu manusia tak mau tunduk patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Mestikah laju pengetahuan yang demikian canggih, menjadikan manusia angkuh, merasa diri mampu atas segalanya?</p>
<p>Sudah tiba saatnya, kaum muslimah berkaca diri. Menatap tentang keadaan dirinya. Sudahkah bersolek dengan hiasan keimanan, ketaatan, dan keshalihan? Lalu menggubah rumah menjadi madrasah bagi masa depan anak-anaknya.</p>
<p>وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ</p>
<p>“Dan seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suami dan anaknya.” (HR. Al-Bukhari, no. 5200, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<p>1 Dijadikan pemikat guna melariskan dan memuluskan usaha. Baik di perkantoran, di dunia periklanan, atau lainnya, nyaris selalu mengedepankan kaum wanita.</p>
<p>2 Lihat Shahih Al-Bukhari, Kitabun Nikah, Bab Khurujun Nisa` li Hawa`ijihinna, hadits no. 5237. (pen)</p>
<p>3 Pupur (jw)=bedak, macak (jw)=berdandan, manak (jw)=melahirkan. Maksudnya, wanita dicitrakan tak jauh-jauh dari urusan ‘ranjang’, dandan, memasak, dan melahirkan anak.</p>
<p><a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;caf5938be80b64d43a0729767cb6cb4e&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://asysyariah.com/print.php?id_online=612" target="_blank"><span>http://asysyariah.com/prin</span>t.php?id_online=612</a></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fadealam.890m.com%2F2009%2F11%2F22%2Ftugas-muslimah.html&amp;linkname=Tugas%20Muslimah"><img src="http://adealam.890m.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adealam.890m.com/2009/11/22/tugas-muslimah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://analytics.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://analytics.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Code -->
